Puisi yang puitis sudah biasa, rayuan gombal sudah sering terdengar, dan janji bersama juga sangat biasa terjadi meski tak pernah tahu apakah itu akan selamanya atau tidak. Tapi sebuah keindahan yang tidak pernah bisa terlukiskan adalah ketika sebuah keyakinanmu diwujudkan oleh-Nya. Ya, keyakinan yang memang tak ada wujudnya. Hanya dapat dirasakan dan mungkin dipahami untuk beberapa saat saja.
Keindahan yang dulu dibanggakan oleh banyak orang dulu (baca : dewasa ), kini akhirnya dapat ku ketahui dan ku rasakan. Terlihat jauh melebihi ekspektasiku mungkin, bahkan akan sedikit terdengar lebay. Tapi ku pikir inilah saat Dia memberikan nikmat-Nya.
Tak ada yang tak pernah berharap akan menemukan seseorang yang dirasa mampu melengkapi hidupnya dengan cara yang indah. Bahkan jatuh cinta dengan cara seperti apapun itu terkadang tidak disadari. Karena cinta sendiri sangat sulit untuk dipahami artinya. Tapi keindahannya sungguh-sungguh tak terlukiskan bukan? Rasanya bahagianya juga takkan ternilai.
Membayangkan keindahan seperti ini dulu hanya terlintas dalam benakku setiap kali membaca novel-novel karya Habbiburrahman El Sirazy. Noverl-novel islaminya membuatku membayangkan bagaimana rasanya jatuh cinta dengan proses yang begitu cepat meski dengan orang yang baru saja dikenal. Ku pikir itu mustahil di jaman sekarang, yang ada adalah adaptasi untuk saling mengenal baru kemudian pacaran.
Mungkin terdengar bodoh saat aku memimpikan seseorang yang akan menjadi imamku kelak. Apalagi melihat perkembangan jaman seperti sekarang ini yang tentu saja semuanya terasa bebas dan tak berjarak. Jarang sekali ada toleransi diantara mereka, yang ada hanya tuntutan untuk saling terbuka. Nyatanya kini aku mengalaminya, sosok yang tak pernah ku sangka mampu menaklukkanku dengan cara berbeda. Cara yang yang selama ini hanya ku yakini ada di novel saja.
Dia memiliki cara yang indah untuk membuatku berubah perlahan, menjadi lebih baik. Dia juga memberikan hidayah-Nya padaku begitu indah dan begitu cepat, meski harus lewat orang lain. Dia yang menyadarkanku betapa indah nikmat yang selalu Dia berikan untukku.
Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberiku nikmat terindah ini.. :)
Senin, 29 Oktober 2012
Senin, 08 Oktober 2012
Indahnya Nyanyian Alam
Ada sedikit cerita di sini, di tempatku berdiri dan memandangmu sekian lama. Tak ada kata-kata, yang ada hanya makna. Beribu makna yang tak mungkin ku pahami satu persatu. Deburan ombak dengan rintik hujan menemaniku.
Dan aku mulai bercerita. Ku dengar kau berdendang, bergemericik, bersahutan dengan mereka, kemudian bersambut halus menyerang kakiku. Aku tersenyum, dan menangis seolah kau memberiku ketenangan hingga aku mampu melepas sejenak bebanku. Kembali menyusun kepingan semangat yang sempat terberai.
Ada kata yang tak pernah ku ucapkan di sini. Entah kenapa, di sini aku tak pernah mampu mengucapkannya padamu. Hanya berdiri memandangmu dari kejauhan, menikmati indahnya dirimu. Dihiasi teduhnya pemandangan yang semakin membuatku merasa tak bosan menikmatimu. Bahkan hingga akhirnya waktu memanggil untuk segera melepasmu.
Dari sekian banyak tulisanku tentangmu, kau tahu selalu saja iringan lagu Padi ataupun Westlife tak pernah ku lepas. Bagiku cerita tentangmu tak pernah usai. Tuhan tak pernah berhenti menunjukkan kebesaran-Nya. Keindahan itu yang selalu ku rindukan, dan akan selalu ku rindukan. Hingga nanti semuanya benar terjadi dan aku hanya dapat duduk terdiam menitikkan air mataku untuk melepasmu, kenangan kita.
Rabu, 19 September 2012
Goa China : Pantai Indah di Desa Terpencil
09 September 2012
Rencana ini berawal dari keinginanku untuk
kembali pergi memantai bersama teman-teman. Sudah dari sekitar 2 bulan lalu,
namun tak kunjung terealisasi. Hingga akhirnya rencana minggu ini pun hampir
gagal karena bertabrakan dengan beberapa agenda teman-teman. Untung saja
beberapa teman lainnya mau menggantikan mereka.
Tepatnya sekitar tanggal 5 September kami
berlima memutuskan untuk pergi ke Malang. Berdasarkan informasi dari kakak
sepupuku yang pernah ke pantai ini, katanya masih asli dan pasirnya pun bagus.
Kami pun berkeliling Malang dahulu baru keesokan harinya ke pantai ini.
Jaraknya sekitar 69 km dari Kota Malang,
perjalanan ditempuh sekitar 1,5-2 jam. Jalan yang ditempuh hampir sama dengan
jalan menuju Pantai Sendang Biru, Bajulmati, dan Balekambang. Hanya saja
berbeda belokan saat berada di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Kalau
dari Pantai Sendang Biru, mungkin jaraknya sekitar 6 km. Jalan yang ditempuh
tentu saja jalanan khas pegunungan yang naik turun dengan tikungan-tikungan
tajam mengawali petualangan kami sebelum sampai di pantai.
Saat ada pertigaan besar ada petunjuk arah
ke Pantai Sendang Biru lurus, sedangkan Pantai Goa China ke kanan. Saat itulah
pemandangan khas pegunungan yang naik turun mulai terlihat indah. Sesekali
memang dikejutkan dengan turunan yang tajam. Kata teman-teman seperti naik jet coaster yang mengocok isi perut. Nanti
di turunan terakhir ada tulisan kecil yang bertuliskan “Goa China 800 m”.
Jalanan masuk ini khas jalanan desa yang masih
terpencil. Dipenuhi batu dan kapur, untuk yeng berkendara motor harus sangat
berhati-hati karena beberapa batu agak tajam. Karena masih belum diaspal, masuk
menuju pantai jadi terasa lebih lama. Akan tetapi, nanti setelah mencapai bibir
pantai dan melihat keindahan khas laut selatan, semua lelah akan hilang dengan
sendirinya.
Pasir putih dengan sedikit rumah-rumah
keong yang telah hancur menjadi pemandangan tersendiri. Kemudian beberapa pulau
kecil juga melindungi besarnya ombak laut selatan. Di ujung sebelah kanan pun
ada petunjuk menuju Goa China yang menjadi sejarah nama pantai ini.
Bibir pantainya agak terpisah dengan karang
di laut. Dilumuri lumut hijau yang menambah keindahan air laut yang jernih,
serta ombak yang menantang ketika akan bermain air di pinggir pantai. Selain
itu, dari pantai ini pun dapat terlihat Pulau Sempu yang tertutup pohon-pohon
hijau.
Terbius Keindahan Pulau Sempu dan Segara Anakan
20 Juli 2011
Sekitar 5 hari lalu aku secara mendadak
menyetujui untuk ikut teman-temanku berekspedisi ke salah satu pulau yang
terkenal dengan segara anakannya. Ya, Pulau Sempu. Pulau yang berada di daerah
Malang Selatan ini terkenal masih asli dan begitu membuat penasaran siapa saja
penikmat adventure.
Ditempuh sekitar 2 jam dari Kota Malang
dengan melewati Pantai Sendang Biru, pulau ini terkenal juga sebagai taman
wisata yang dilindungi. Karena itu dikabarkan tidak sembarang orang dapat
memasuki dan bercamping ria di sana.
Dulu aku memang pernah ke Pantai Sendang
Biru, namun itu sudah sekitar 4 tahun yang lalu. Dan pemandangan di sana memang
tidak seperti pantai-pantai biasanya. Pantai ini tertutup luasnya Pulau Sempu,
sehingga ombak laut selatan yang masuk masih terlampau tenang. Perahu-perahu
nelayan pun bebas di parkir di pinggiran pantai.
Kami berangkat ke Malang agak terlambat
dari jadwal, kami berangkat dari Surabaya sekitar jam 6 sore. Sebelumnya kami
harus pergi ke Mojokerto untuk menjemput saudara temanku. Kami berangkat
berenam, dan sayalah yang paling cantik diantara pemuda-pemuda ini. Hehehe
Kami berangkat dari Mojokerto sekitar jam 8
malam, lalu langsung mengudara ke Malang. Hingga sampai di daerah Turen sekitar
jam 11 malam. Jalan menuju Sempu tentu saja sama dengan ke Pantai Sendang Biru.
Melewati jalan berliku dengan tikungan-tikungan tajam khas pegunungan yang naik
turun. Tak terasa kami pun tiba di Sendang Biru sekitar jam 2 malam. Ya,
saat-saat paling tidak tepat untuk menikmati angin pantai yang dingin.
Kami baru menyeberang ke Pulau Sempu esok
harinya. Karena tidak ingin menyalahi prosedur yang ada, kami meminta ijin pada
pengelola untuk pergi ke Pulau Sempu. Dan setelah surat ijin telah kami
dapatkan, kami segera meminta nelayan untuk mengantarkan kami menyeberang.
Biaya menyeberang pergi-pulang sekitar 100 ribu untuk 1 perahu. Nanti sesuai
perjanjian, kami akan dijemput lagi.
Jalanan menuju Segara Anakan tidaklah
mudah, kami harus melewati hutan basah yang tentu saja banyak hewan-hewan
penghuninya. Untuk mengantisipasi kaki lecet atau terluka, sebaiknya
menggunakan sepatu atau sandal yang memang untuk tracking. Karena saya mengalaminya sendiri akibat kesalahan memakai
sepatu.
Perjalanan melewati hutan basah ini
ditempuh sekitar 2 jam dari penyeberangan. Padahal jaraknya dengan Segara
Anakan hanya sekitar 2,5 km. Tapi karena yang dilewati berupa hutan yang masih
asli, ya siapkan fisik dan bawa air minum secukupnya untuk berjaga-jaga. Ada
pula yang membawa kompor gas, LPG, hingga air gallon untuk berjaga-jaga mungkin
yang ingin menginap. Oh iya, jangan lupa untuk yang ingin beristirahat agar
membawa tenda atau tikar. Karena siang hari tetap panas.
Perjalanan kami dihargai sangat mahal
setelah akhirnya kami pun tiba di Segara Anakan. Sungguh indah ciptaan-Nya.
Pantai yang masih asli, dikelilingi pohon-pohon rimbun, dan sesekali terdengan
deburan ombak yang menabrak karang di ujung pulau menjadi pemandangan yang tak
terlupakan. Bahkan untuk berenang atau bermain air di tengah pun tidak perlu
takut, karena airnya tidak terlalu dalam seperti pantai-panti biasanya. Pasir
pantainya yang halus pun masih dapat digunakan untuk berlarian atau malah
bemain futsal bersama.
Selain itu ada beberapa monyet yang
biasanya berlalu-lalang menggoda pengunjung atau bahkan mengambil makanan milik
pengunjung. Tapi tentu saja mereka pada dasarnya tidak mengganggu pengunjung
yang sedang menikmati pantai. Hanya saja agak sedikit kecewa setelah pulau ini
mulai ramai dikunjungi orang, banyak sampah yang berserakan.
Serunya Bermain di Pantai Tambakrejo
2 Desember 2010
Blitar merupakan daerah yang luas, terdiri
dari Kabupaten dan Kota membuatnya terlihat berpotensi menjadi tempat wisata
yang indah. Apalagi kota ini sebenarnya merupakan dataran tinggi dan berada di
daerah selatan Jawa Timur. Seperti yang sering dibicarakan banyak orang,
pesisir selatan memiliki keistimewaan tersendiri dengan panta-pantainya. Ya,
pantai yang indah dengan pasir putih dan volume ombak yang besar menjadi
ketertarikan saya untuk selalu berkunjung ke pantai-pantai selatan.
Kali ini tujuan saya adalah menuju Pantai
Tambakrejo di daerah Kademangan, Blitar. Awalnya saya agak sangsi dengan
keindahan pantai ini, namun karena Om saya mengatakan bahwa pantai itu juga
terkenal karena adanya pasar ikan, akhirnya saya pun menyetujui untuk pergi ke
sana. Kami berangkat dengan rombongan satu mobil avanza penuh. Bersama dengan
ketiga sepupu, ponakan, ibu, serta om dan tante kami berangkat siang itu.
Tante dan om menjelaskan bahwa mereka
mengetahui pantai itu juga karena tante yang merupakan guru di salah satu
sekolah di daerah tersebut. Jaraknya agak jauh memang dari kota, ditempuh sekitar
45 menit sampai satu jam. Seperti pada pantai-pantai di daerah lain, jarak
masuk antara jalan besar dengan pantai masihlah kurang layak. Perjalanan kami juga
dihiasi dengan pemandangan bukit-bukit yang saat itu kering, mungkin karena
bersamaan dengan musim panas.
Sesampainya di pantai, terlihat ada pasar
ikan dan berbagai macam warung yang dibuka. Begitu juga dengan kamar mandi umum
dan mushola yang ramai digunakan oleh pengunjung. Beberapa nelayan sepertinya
baru saja kembali dari aktivitasnya mencari ikan. Mereka terlihat tak kesulitan
akan menjual ikannya kemana, karena beberapa pengunjung langsung mendekati
untuk membeli ikan hasil tangkapan mereka.
Kami menunggu sejenak di bibir pantai, ada
tempat istirahat yang sudah disediakan oleh pemerintah. Ya, bentuknya memang
mirip dengan rest area, hanya saja
tipe mininya.
Adik-adik sepupuku langsung saja melepas
sandalnya menuju lautan, disusul dengan kakak sepupuku yang menggandeng
keponakanku. Aku pun tak mau ketinggalan, hanya tinggal menitipkan sandal pada
ibuku dan langsung berlari menyusul mereka.
Pantai ini memiliki sedikit perbedaan
dengan pantai yang sebelumnya ku kunjungi. Karena ombak laut selatan yang
terkenal menyeramkan, salah satu sudut bibir pantai dibangun sebuah tembok
tinggi untuk menahan deburan ombak. Cukup aman untuk bermain anak kecil jika
berada di dekat tembok ini.
Pantai ini punya keindahan yang khas
sebagai pesisir laut selatan. Posisinya di tengah bukit-bukit besar yang
terlihat indah dari kejauhan dengan warnanya yang hijau. Begitu pula deburan
ombak yang besar tidak membuat saya takut bermain air di sini, malah ingin
bermain dengan saudara-saudara saya.
Berpetualang Ke Pantai Serang
11 November 2010
Setelah cukup puas bermain air dan menikmati indahnya Pantai Serang, kami pun pulang dengan kepuasan yang membuncah. Keindahan pantai ini sungguh sepadan dengan perjalanan yang jauh kami tempuh dari Surabaya.
Awalnya sama sekali tak ada pikiran untuk
pergi ke pantai ini. Namun, karena aku dan temanku, Yani penasaran dengan
pantai ini, akhirnya kami pun memutuskan pergi ke sana dengan dadakan. Tak ada
persiapan sama sekali menuju pantai yang berada di perbatasan antara Malang dan
Blitar ini.
Kami berangkat sudah cukup malam saat itu,
ya Jumat malam kami langsung menuju Malang untuk beristirahat sejenak. Bukan
bermalam di penginapan, tapi dalam mobil yang terparkir di McD. Terlihat
seperti anak perantauan sepertinya. Hehehe
Jadwal untuk keesokan harinya adalah jam 5
pagi harus sudah berangkat dari kota menuju Karangkates. Waduk sekaligus tempat
wisata ini menjadi tujuan kami yang pertama untuk melihat matahari terbit,
hanya sekitar 30-45 menit saja ditempuh dari Malang kota. Indahnya bagai berada
di pantai, karena waduk yang luas disertai dengan bukit yang hijau dipadu
dengan sinar matahari yang kekuningan.
Sejenak menikmati dinginnya Karangkates
sambil berfoto-foto. Sebagai mahasiswa yang disibukkan dengan kuliah, mungkin
baru kali ini refreshing yang benar-benar nekat alias mbolang. :D
Perjalanan selanjutnya adalah tujuan utama
kami, yaitu Pantai Serang. Pantai ini jaraknya sekitar 45 km dari Kota Blitar
atau dari Kota Malang, dengan waktu tempuh sekitar 1-1,5 jam. Dengan jalanan
yang berliku dari Malang dan naik turun gunung, agaknya perlu berhati-hati.
Jalan masuk menuju Pantai Serang agak
sedikit membingungkan, karena tanda arahnya hanya bisa dilihat jika perjalanan
ditempuh dari Blitar. Tikungannya dari Malang adalah belok ke kiri setelah
pasar buah dan bertepatan dengan terminal kecil di dekat hutan jati. Jalan
masuknya kecil dan dikelilingi oleh pohon-pohon jati yang tinggi.
Dari jalanan masuk hingga menuju pantai,
masih banyak jalan yang rusak atau penuh bebatuan. Arahnya pun tidak bisa
diperkirakan, namun jika menanyakan pada warga sekitar, mereka pasti tahu.
Biasanya mereka akan memberikan pilihan mau ke Serang atau Jolosutro. Bedanya,
pada jalanan agak menanjak jika ke Serang belok ke kanan, sedangkan untuk
Jolosutro lurus.
Jalanan ke Pantai Serang ini sempit dan
masih banyak bebatuan hingga turunan yang tajam. Namun, keindahan alam sekitar
mampu menghapuskan segala lelah selama perjalanan.
Setelah melewati beberapa hektar area
sawah, kami menemukan tikungan kecil yang merupakan jalan utama menuju pantai.
Kata beberapa orang ibu-ibu yang kami tanyai, jalanannya sedikit becek karena
memang jalanan lempung. Tikungan itu ternyata juga merupakan turunan tajam,
jadi saat ada mobil lain yang mau keluar atau masuk harus bergantian.
Pantai Serang ini terdiri dari 3 bagian
pantai kecil. Salah satunya, yang terbesar biasanya digunakan untuk larung
hasil bumi di Blitar. Karena merupakan pantai pesisir selatan, ombak yang cukup
deras dan buihnya yang putih terlihat indah. Begitu juga keindahan pantai
karena dibatasi oleh bukit-bukit hijau disisi-sisinya.
Setelah cukup puas bermain air dan menikmati indahnya Pantai Serang, kami pun pulang dengan kepuasan yang membuncah. Keindahan pantai ini sungguh sepadan dengan perjalanan yang jauh kami tempuh dari Surabaya.
Senin, 06 Agustus 2012
Pesan Untuk Sahabat
Entah mengapa, beberapa hari ini di tengah kesibukanku mengerjakan berbagai macam tugas, aku justru terpaku saat pergi berjalan-jalan dengan saudara-saudaraku. Aku teringat kalian... Kalian para sahabatku yang tak kenal lelah menemaniku, dengan berbagai macam hal baik dan buruk yang ku lakukan sampai saat ini...
Terwujud beberapa gambaran, mengapa kita dapat melaluinya bersama-sama...
Semuanya...
Karena itu ku tulis ini hanya untuk kalian, sahabatku...
Usia kita mungkin tak terpaut
Dan tangan kita mungkin tak pernah bergandeng
Tapi dalam hati sudah terpatri
nama
keunikan
dan bahkan wajah masing-masing
Ingatkah kalian
Apa yang membuat kita saling mengenal?
Apa yang membuat kita tertawa?
Dan apa yang membuat kita mampu menangis bersama?
Ya, takdir
Dengan segala kekurangan dan kelebihan
Semuanya terasa begitu sempurna
Dengan berbagai macam cobaan
Permasalahan
Pertengkaran
dan perdebatan
kita mampu bertahan
bertahan sampai hari ini
detik ini
Adakah yang ingin kau katakan sobat??
Ya, yang kan slalu terucap
hanyalah Terima Kasih
Beberapa kesempatan terkadang hanya datang sekali...
Karena itu sebelum terlambat, ucapkanlah Terima kasih pada mereka...
Sahabatmu, yang telah menemanimu menjalani hidup ini...
NB :
- Sahabat akan benar-benar jadi seorang sahabat jika ia tetap mau menerimamu kembali meski kalian pernah
bertengkar
- Sahabat bisa jadi musuh atau pacar, dan musuh atau pacar juga bisa jadi sahabat
Langganan:
Postingan (Atom)











