Senin, 06 Agustus 2012

Apa Bisa - Kotak


Jika aku jadi kamu, aku akan dengarkan
Jika aku jadi kamu, aku akan perhatikan
Yang ku keluhkan, selalu
Pantasnya kamu dengarkan aku dulu

Kali ini apa masih bisa
Aku tahan denganmu
Sebenarnya apa masih bisa
Kamu sayangi aku, apa bisa

Jika aku jadi kamu, tidak sulit mengalah
Karena aku ingin lama, sama kamu berjalan
Yang ku keluhkan, selalu
Pantasnya kamu dengarkan aku dulu

Kali ini apa masih bisa
Aku tahan denganmu
Sebenarnya apa masih bisa
Kamu sayangi aku
Apa bisa, apa bisa, apa bisa
Kali ini apa masih bisa

Kali ini apa masih bisa
Aku tahan denganmu (aku tahan denganmu)
Sebenarnya apa masih bisa
Kamu sayangi aku (apa bisa)
Kali ini apa masih bisa (apa bisa)
Sebenarnya apa masih bisa (apa bisa)
Kali ini apa masih bisaKita bersama-sama...apa bisa

Pilihan Hati - Hello Feat Mega


Ayah ku punya cerita
Saat ini ku tak sendiri
Ibu dengarkanlah aku
‘kan ku bawa pulang kekasih hatiku
Seseorang yang akan mengisi hariku

Dengan dirimu aku bahagia
Dengan dirimu ku temukan cinta
Dengan dirimu akan ku lewati semua
Sisa hidupku bersamamu
 
Ayah Ibu maafkanlah aku
Pilihanmu bukan pilihan hatiku
Hanya dia dia kekasih hatiku
 
Dengan dirimu aku bahagia
Dengan dirimu ku temukan cinta
Dengan dirimu akan ku lewati semua
Sisa hidupku bersamamu
 
Dengan dirimu dengan dirimu aku bahagia aku bahagia
Dengan dirimu ku temukan cinta
Dengan dirimu akan ku lewati semua
Sisa hidupku bersamamu
Sisa hidupku bersamamu
Ayah Ibu maafkanlah aku

Kamis, 02 Agustus 2012

Mirip Belum Tentu Sama


Cukup banyak sepertinya yang mengatakan bahwa aku orang yang terlalu sabar. Memang tak mudah menghadapi semuanya dengan penerimaan dan pikiran yang selalu positif. Terkadang terlihat seperti aku yang selalu terpojok, tapi aku pun mungkin tak tahu bahwa dia merasakan hal yang sama seperti yang ku rasakan itu. 

Ku pikir aku sudah cukup sabar menghadapinya, tapi sepertinya masih belum. Ya, aku masih ingat ucapanku sendiri, "Kesabaran itu tak berbatas, tapi kemauan untuk sabar yang berbatas."

Aneh rasanya saat aku sendiri mengakui bahwa sebenarnya kami sama saja. Sama-sama egois, sama-sama tak mau disusahkan, bahkan sama-sama pemarah (mungkin). Kadang sulit rasanya untuk mengakuinya dan itu yang terkadang membuatku merasa 'lebih' darinya. Padahal ya, sama saja.

Tapi apa dia tahu itu? Tahu apa yang sebenarnya ku pikirkan dan ku rasakan? Sepertinya tidak, atau lebih tepatnya belum. Dan sekali lagi aku harus 'mau' mengakui bahwa itu sama. Aku juga tak tahu kalau ternyata dia juga memikirkan atau merasakan hal yang sama denganku.

Cukup dengan sabar saja kah? Atau disertai dengan ikhlas? Atau bahkan diperlukan toleransi juga? Ya, semuanya mungkin masih belum cukup untuk memberikan kekuatan menghadapi segalanya secara utuh. Bahkan terkadang memahami kemauan diri sendiri saja masih belum mampu, lalu bagaimana bisa memahami kemauan orang lain? Sama saja kan? Sabar dengan kondisi diri sendiri saja masih sulit, bagaimana bisa mengatakan bahwa diri ini sudah sabar dengan orang lain?

Saat ini yang ku tahu adalah aku penganut paham humanis. Bagiku setiap manusia bisa saja melakukan hal yang sama dengan manusia lainnya, meskipun mungkin pada waktu yang berbeda. Dan aku benar-benar harus mau menerimanya, mempraktekkannya, menerapkannya pada diriku sendiri dulu dan baru mencoba menerapkannya pada orang lain.


NB : 
Kalau ada yang merasa tersinggung atau sakit hati dengan tulisan ini, saya minta maaf. Saya hanya mencoba mengungkapkan sedikit persepsi saya saja.
:)

Keindahan Sebuah Tulisan

Menulis itu mudah.. Tapi saat kau tak tau apa yg ingin kau tulis mungkin rasanya akan berbeda..
Menulis adalah salah satu cara untuk mengurangi beban otak..
Tiap tulisan punya kekhasan masing2 dari setiap penulisnya..
Selalu ada makna tersendiri dibalik setiap tulisan..
Karena itu, menulislah..
Menulislah dengan indah..Menulislah dengan keindahan ide pikiranmu..
Menulislah dalam setiap luang waktumu..
Kelak, tulisan itu akan menjadi peninggalan berharga untuk anak cucumu..
Tinggalkanlah kenangan bermanfaat untuk generasi setelahmu, agar mereka mengerti dan mampu menghargai setiap hasil karya seseorang..
:)

Warna-warni Dunia


Saat kamu sudah merasa semuanya lebih baik setelah dia pergi dan kemudian ternyata dia kembali menghampirimu, terimalah itu apa adanya.. Karena sebenarnya Allah swt sudah punya rencana lain untuk kalian..

Ketika kamu bertemu dengan orang yang kamu anggap salah, itu adalah takdir.. Dan ketika kamu merasa harus memutuskan untuk meninggalkannya, itu adalah pilihan..

Allah swt menciptakan persimpangan bukan tanpa alasan, tapi memberimu kesempatan memilih mana yang menurutmu baik.. Tapi tetaplah yakin dari setiap pilihan itu akan selalu ada yang terbaik dari-Nya..

Jika kamu membutuhkan jawaban atas pertanyaanmu sendiri, yang kamu butuhkan adalah kemantapan hati atas apa yang kamu pilih sebelumnya..

Tidak semuanya bisa kamu ceritakan pada orang yang kamu percaya, karena mereka mungkin saja akan merubah segalanya, termasuk keyakinan pada dirimu sendiri..

Meminta maaf selalu membutuhkan keberanian dan kebesaran jiwa, tapi memaafkan lebih membutuhkan kelapangan dan keikhlasan hati..

Membalas perlakuan baik orang lain padamu sudah pasti balas budi, tapi membalas perlakuan buruk orang lain padamu berarti kau belum dewasa..

Allah swt menciptakan manusia selalu dengan lebih banyak kelebihannya daripada kekurangannya.. Tergantung bagaimana dia mengelolanya..

Allah swt akan menunjukkan mana yang memang jalanmu dan itu sudah pasti yang terbaik..

Kalo kamu dikasih kelebihan sama Allah swt, hati-hati kalo ngomong! Jangan gampang marah dan suka ngomong jelek ke orang lain.. Nanti kalo sampe kejadian malah kamu yang nyesel..

Kamu nggak pernah tau apa yang kamu rasakan tentang orang lain itu gunanya apa dan sampai kapan, tapi yang perlu kamu tau itu tetap pemberian Allah swt..

Masih Ada Ibu dan Ayah


Ibu, Mama, Umi, Bunda… Ada berbagai macam panggilan untuknya, dia yang telah melahirkan aku, kamu, dia, bahkan mereka yang mungkin juga tak kau kenal. Tapi dari sekian banyak panggilan itu, adakah yang merubahnya? Tidak. Sama saja. Kedudukannya masih spesial karena kemuliaannya mengandung selama 9 bulan dan tentu saja melahirkan. Tak salah juga pepatah yang sering kita dengar bahwa surga berada di telapak kaki ibu.

Kita tak bisa mengingat saat kita dalam kandungan, ataupun bagaimana beliau merawat kita saat bayi. Tapi apa yang beliau rasakan saat itu masih tergambar jelas pada raut wajahnya dan matanya yang hingga saat ini selalu mencoba menjaga kita. Tertawa saat kita tertawa, menangis saat kita bersedih, dan mencoba lebih tegas saat kita melakukan kesalahan. Tegas lho ya! Bukan  marah. Istilah marah hanya muncul karena kita melihat ketegasannya dari sisi lain, ego kita. Bukan dari sisi beliau melakukannya.

Terkadang pandangan kita sebagai seorang anak jauh berbeda dengan orang tua kita, tak hanya ayah, ibu juga. Larangan berteman dengan  si ini atau si itu, pulang larut malam, harus banyak makan sayur, hati-hati di jalan, atau masih banyak lagi. Rasanya ingin marah tapi juga sedih, dan yang bisa dilakukan hanya menangis lalu masuk ke kamar lagi. Bukankah kebanyakan dari kita seperti itu? Lalu pernahkah kita memikirkan alasan mengapa ayah atau ibu melarang kita melakukannya? Mudah sebenarnya, logis pula.

Beliau tak ingin kita terjerumus dalam pergaulan yang salah, tak semua teman kita akan menjadi teman sejati sampai tua nanti kan? Bukankah pertemanan itu sebenarnya hanya sebagian dari simbiosis mutualisme sebuah kepentingan? Banyak pula peristiwa buruk yang dialami dari persahabatan. Tak semua teman-teman kita juga mau menerima kekurangan kita. Tak juga sahabat. Beliau hanya ingin kita berhati-hati saja, karena tak ada satu orang pun yang dapat dipercaya 100%. Sebenci-bencinya orang tua terhadap anaknya, apakah mereka tak akan mau menerima anaknya kembali meski telah melakukan kesalahan fatal? Hati kecil mereka masih utuh untuk menerima kita, apalagi ibu yang sudah mengandung dan melahirkan kita.

Saat kita mulai beranjak dewasa, yang laki-laki bermalam mingguan dengan pacarnya atau yang perempuan didatangi lelakinya. Pernahkah kita berpikir bahwa orang tua kita mencemaskan kita? Apalagi jika pulang hingga larut malam? Bukan karena tak percaya pada pasangan, tapi lebih ingin menjaga. Karena nanti setelah kita menikah, tanggung jawab itu akan berpindah pada pasangan baru kita. Lihatlah saat kebanyakan orang menikah, mereka akan menangis karena mungkin ini jadi salah satu cara membahagiakan orang tua. Lalu ibu, menangis terharu karena anak yang telah beliau kandung, lahirkan, dan dirawat telah sedewasa itu hingga mampu mengemban tanggung jawab yang lebih berat lagi.

Pernahkah kita juga menyadari bahwa ibu juga ingin dimanja oleh anaknya? Bukan hanya soal balas budi, tapi lihatlah sedikit ke masa lalu. Saat kita sakit atau menangis sedih karena suatu permasalahan, ibu akan selalu menjadi yang pertama menanyakan keadaan kita. Bahkan ayah pun ikut mengkhawatirkan kita meski mungkin tak mau menunjukkan kekhawatirannya. Beliau juga ingin diperhatikan anak-anaknya yang mungkin karena mulai beranjak dewasa akan perlahan pergi menomorsatukan urusan mereka yang lain daripada orang tuanya. Lalu saat kita pergi jauh, beliau akan merasa kesepian. Tapi tak selalu menghubungi kita dan menanyakan keadaan kita kan? Itu bukan berarti tak peduli, tapi setidaknya beliau sudah mempercayai kita untuk menentukan jalan kita sendiri.

Banyak peristiwa yang tidak kita sadari sesungguhnya membawa kita pada keadaan yang lebih baik. Tapi ego dan kondisi lingkungan memang lebih banyak membuat kita menghabiskan waktu yang sia-sia. Jangan sia-siakan saat pikiran positif itu datang dan mengungkap segala kasih sayang orang tua kita! Jalani dan lakukan apa yang masih mampu kita lakukan sebelum ayah dan ibu kita pergi meninggalkan kita, karena kita takkan pernah tahu siapa yang akan pergi lebih dahulu.

Wanita Terlukis Indah di Dunia


Sadarkah para wanita, bahwa sebenarnya mereka itu lebih kuat dibanding dengan pria? Ingatkah pada kasih sayang ibu pada anaknya? Dan bagaimana seorang wanita tetap bertahan sebagai single parent?
Berbagai macam anggapan tentang wanita di zaman yang sudah modern ini semakin ramai bermunculan. Di awali saat Ibu Kartini yang memperjuangkan hak-hak wanita hingga membuatnya sebagai pahlawan bagi para wanita lainnya. Kemudian munculnya banyak wanita karir menjadi sebuah fenomena tersendiri. Namun, dibalik itu semua sebenarnya para wanita memang telah diberikan kekuatan tersendiri oleh Yang Kuasa.
Secara fisik seorang wanita diciptakan memang tak jauh berbeda dari seoarang pria. Namun sebenarnya terdapat banyak perbedaan antara wanita dan pria. Lihatlah tutur katanya yang halus dan lembut, kasih sayangnya yang tulus, tingkah lakunya yang lemah lembut, serta pola pikirnya yang lebih menggunakan perasaan. Mereka diberikan keistimewaan dengan kepekaan perasaannya pada darah dagingnya dan orang-orang terdekatnya.
Lihatlah saat seorang ibu yang baru saja melahirkan, beliau dengan sabar dan lembut menyusui bayinya. Beliau rela tidak tidur semalaman demi menjaga sang bayi agar tidak terganggu oleh nyamuk ataupun terbangun dan menangis. Dengan ketulusan hatinya, beliau Hingga saat sang anak belajar bersepeda, jatuh, dan terluka, ibu takkan marah. Beliau dengan sabar mengobati luka anaknya dan menenangkannya agar tak menangis lagi.
 Kemudian saat sang anak telah tumbuh dewasa dan memutuskan untuk hidup sendiri yang mungkin jauh darinya, beliau hanya menangis terharu dan rela melihat anaknya telah tumbuh dan mampu hidup mandiri. Di saat sang anak telah berada jauh dari ibunya, dan ia mengalami sebuah hal yang menyedihkan atau musibah, ibu dengan kepekaannya seakan tahu apa yang dirasakan oleh anaknya. Hanya ibu lah yang mengerti bagaimana cara mengasuh anak dan menyayanginya sepenuh hati, hingga dalam saat apapun beliau mengerti apa yang dirasakan oleh anaknya. Seperti yang digambarkan oleh sebuah peribahasa kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.
Kemudian dengan berkembangnya zaman, hingga tahun 2010 ini hampir berakhir telah diketahui banyak kasus perceraian dikalangan wanita muda kita. Berbagai macam alas an diungkapkan, entah karena ketidakcocokan atau karena perselingkuhan sang suami. Namun meski berbagai macam kasus dan kesedihan  melanda mereka, mereka tetap kuat dan tegar. Mereka rela untuk bertahan tidak menikah lagi dan menjadi single parent bagi anak-anak mereka. Faktanya meskipun kebanyakan wanita korban perceraian tersebut lebih memilih sebagai single parent, tapi mereka masih sanggup membiayai dan menyayangi anak-anak mereka selama bertahun-tahun.
Kemudian ketika seorang wanita memutuskan untuk bekerja, tak main-main mereka rela mengambil resiko pekerjaan yang mungkin itu hanya dilakukan olah para pria. Seperti pernah diketahui dari sebuah stasiun televisi yang menyiarkan tentang berita adanya seorang wanita yang bekerja sebagai sopir bus trans Jakarta. Saat ia ditanya mengapa ia mau bekerja sebagai sopir, ia hanya menjawab bahwa ia ingin menjawab tantangan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh kaum pria tersebut.
Sebenarnya begitu banyak keistimewaan yang dimiliki para wanita, namun mungkin semuanya hanya tertutupi oleh kuasa para pria yang lebih terlihat dan dianggap kuat. Padahal faktanya, wanita lah yang lebih kuat daripada pria. Jadi berbanggalah wahai kaum wanita.