Tampilkan postingan dengan label Wanita dan Pria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wanita dan Pria. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Agustus 2012

Ini Idolaku, Mana Idolamu?


Aku bersyukur meski tak terlalu pandai dalam pendidikanku, tapi aku memiliki contoh yang baik, dan tentu saja idolaku. Ya, seorang laki-laki yang ku panggil Bapak adalah seseorang yang pas ku sebut idola. Sebenarnya banyak alasan yang membuatku untuk tidak menganggapnya begitu, tapi tidak untukku. Banyak cerita tentang beliau. Dari awal cerita mereka tentangku, pertama kali aku bisa bicara, aku memanggilnya. Mungkin aneh, tapi entahlah. Mungkin itu sedikit alasan mengapa aku terlihat lebih dekat dengan beliau.

Ketertarikanku dimulai saat umurku masih 2 tahun. Kebiasaan membaca koran akhirnya ku bawa sampai sekarang. Mungkin meminum kopi juga iya, tapi ya sudahlah itu bukan ketertarikan yang baik sekarang. Sampai aku sadar dan masih ku ingat betul, beliau mengajarkanku berhitung dengan Bahasa Jepang. Meski tak lancar dan sekarang pun sudah ku lupakan, tapi itu sebuah kenangan indah dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi Shinta kecil.

Tak sampai di situ, aku masih diharuskan menghafal angka dan beberapa kosa kata dalam Bahasa Inggris. Memang sepengetahuanku, Bapak memiliki Bahasa Inggris yang baik dalam komunikasi pasif saja. Tapi setidaknya sedikit membuatku lebih berguna dengan status Shinta kecil saat itu. Hingga memudahkanku untuk mempelajari materi-materi Bahasa Inggris lainnya di dunia sekolah. Dan ku tahu itu membuatku berbangga hati karena guruku puas menemukan nilai-nilaiku memuaskan, meski tak stabil tentunya.

Sekarang yang ku ingat adalah pendidikanku di bidang yang tak lain berhubungan dengan hukum dan kewarganegaraan. Yang ternyata memang tak pernah ku temui nilai kurang. Lalu aku sadar, aku telah mendapatkan semua pendidikan itu dari usiaku masih sekitar 3 tahun. Meski itu masih kecil untuk seorang anak TK, tapi mereka percaya pada kemampuanku. Dan aku bersyukur atas itu. Sampai saat ini pun, hingga aku merasa terjebak dalam keingintahuan di bidang hukum, aku mencoba bangkit dan mencari tahu sendiri. Aku sadar, mungkin tak takkan bisa seperti beliau. Tapi apa yang beliau dapatkan membuatku berlagak puas, dan berdecak kagum.

Karirnya memang tak secemerlang Pak Otto Hasibuan atau OC Kaligis. Tapi pengalaman dan lagaknya membuatku benar-benar kagum melebihi kekagumanku mungkin pada Randy Pangalila atau Agus Indra. Aku memang baru sekali mengikuti sidang bersama beliau, itupun di Jakarta. Yang mungkin kasusnya akan terasa lebih besar karena yang diadili bukanlah orang asli sana, apalagi dengan jabatannya saat itu. Tatapannya dalam dan kata-katanya tegas, meski disertai dengan Bahasa Belanda yang aku tak pernah tahu artinya. Tapi saat itu aku benar-benar dibuat menganga oleh orang yang telah menjadi ayahku selama berpuluh-puluh tahun itu. Tak pernah terlihat lagi rasa lelah yang sebelumnya sering ku lihat di rumah.

Dan sebagai orang yang mengetahui apa dan bagaimana bidang hukum itu, beliau tak pernah menggunakannya untu orang-orang terdekatnya maupun dirinya sendiri. Meski itu merugikan dirinya. Terkadang ada perasaan marah atau sedih saat mengetahui bahwa beliau dirugikan. Ku pikir, cukuplah apa yang Bapak ketahui dan pelajari selama ini. Dan tentu saja hal itu dapat digunakan jika beliau sedang dirugikan oleh pihak lain. Toh UU tentang customer atau masalah RS juga sudah ada, terbaru pula. Tapi ternyata tidak, sama sekali tidak ada tuntutan atas peristiwa itu. Bahkan tidak pernah mengajarkanku untuk menuntut pihak-pihak yang merugikan, meski tentu saja aku dapat dengan mudah melakukannya.

Bukan soal tuntutan katanya. Bukan juga soal uang. Rugi memang iya, tapi apa gunanya memiliki pengetahuan lebih dan hanya digunakan untuk membalas kerugian kita. Sedikit, dan tak berulang kata-katanya. Tapi sangat bermakna dalam bagiku. Bahkan ketika aku memutuskan akan bekerja di sebuah lembaga hukum, beliau menolaknya mentah-mentah. Mungkin aku akan merasa marah, tapi ternyata tidak. Karena beliau telah memberiku kesempatan belajar dari pengalaman-pengalamannya sendiri.


NB :
- Berkeinginan memang mudah, tapi apa salahnya berpikir realistis sesuai bakat, minat, dan kesempatan.
- Belajar tak hanya lewat pengalaman diri sendiri, tapi juga dari orang lain.
- Suatu saat kau pasti terjatuh, tapi suatu saat nanti kau juga akan bangkit dan mendapatkan yang terbaik.

Kamis, 02 Agustus 2012

Masih Ada Ibu dan Ayah


Ibu, Mama, Umi, Bunda… Ada berbagai macam panggilan untuknya, dia yang telah melahirkan aku, kamu, dia, bahkan mereka yang mungkin juga tak kau kenal. Tapi dari sekian banyak panggilan itu, adakah yang merubahnya? Tidak. Sama saja. Kedudukannya masih spesial karena kemuliaannya mengandung selama 9 bulan dan tentu saja melahirkan. Tak salah juga pepatah yang sering kita dengar bahwa surga berada di telapak kaki ibu.

Kita tak bisa mengingat saat kita dalam kandungan, ataupun bagaimana beliau merawat kita saat bayi. Tapi apa yang beliau rasakan saat itu masih tergambar jelas pada raut wajahnya dan matanya yang hingga saat ini selalu mencoba menjaga kita. Tertawa saat kita tertawa, menangis saat kita bersedih, dan mencoba lebih tegas saat kita melakukan kesalahan. Tegas lho ya! Bukan  marah. Istilah marah hanya muncul karena kita melihat ketegasannya dari sisi lain, ego kita. Bukan dari sisi beliau melakukannya.

Terkadang pandangan kita sebagai seorang anak jauh berbeda dengan orang tua kita, tak hanya ayah, ibu juga. Larangan berteman dengan  si ini atau si itu, pulang larut malam, harus banyak makan sayur, hati-hati di jalan, atau masih banyak lagi. Rasanya ingin marah tapi juga sedih, dan yang bisa dilakukan hanya menangis lalu masuk ke kamar lagi. Bukankah kebanyakan dari kita seperti itu? Lalu pernahkah kita memikirkan alasan mengapa ayah atau ibu melarang kita melakukannya? Mudah sebenarnya, logis pula.

Beliau tak ingin kita terjerumus dalam pergaulan yang salah, tak semua teman kita akan menjadi teman sejati sampai tua nanti kan? Bukankah pertemanan itu sebenarnya hanya sebagian dari simbiosis mutualisme sebuah kepentingan? Banyak pula peristiwa buruk yang dialami dari persahabatan. Tak semua teman-teman kita juga mau menerima kekurangan kita. Tak juga sahabat. Beliau hanya ingin kita berhati-hati saja, karena tak ada satu orang pun yang dapat dipercaya 100%. Sebenci-bencinya orang tua terhadap anaknya, apakah mereka tak akan mau menerima anaknya kembali meski telah melakukan kesalahan fatal? Hati kecil mereka masih utuh untuk menerima kita, apalagi ibu yang sudah mengandung dan melahirkan kita.

Saat kita mulai beranjak dewasa, yang laki-laki bermalam mingguan dengan pacarnya atau yang perempuan didatangi lelakinya. Pernahkah kita berpikir bahwa orang tua kita mencemaskan kita? Apalagi jika pulang hingga larut malam? Bukan karena tak percaya pada pasangan, tapi lebih ingin menjaga. Karena nanti setelah kita menikah, tanggung jawab itu akan berpindah pada pasangan baru kita. Lihatlah saat kebanyakan orang menikah, mereka akan menangis karena mungkin ini jadi salah satu cara membahagiakan orang tua. Lalu ibu, menangis terharu karena anak yang telah beliau kandung, lahirkan, dan dirawat telah sedewasa itu hingga mampu mengemban tanggung jawab yang lebih berat lagi.

Pernahkah kita juga menyadari bahwa ibu juga ingin dimanja oleh anaknya? Bukan hanya soal balas budi, tapi lihatlah sedikit ke masa lalu. Saat kita sakit atau menangis sedih karena suatu permasalahan, ibu akan selalu menjadi yang pertama menanyakan keadaan kita. Bahkan ayah pun ikut mengkhawatirkan kita meski mungkin tak mau menunjukkan kekhawatirannya. Beliau juga ingin diperhatikan anak-anaknya yang mungkin karena mulai beranjak dewasa akan perlahan pergi menomorsatukan urusan mereka yang lain daripada orang tuanya. Lalu saat kita pergi jauh, beliau akan merasa kesepian. Tapi tak selalu menghubungi kita dan menanyakan keadaan kita kan? Itu bukan berarti tak peduli, tapi setidaknya beliau sudah mempercayai kita untuk menentukan jalan kita sendiri.

Banyak peristiwa yang tidak kita sadari sesungguhnya membawa kita pada keadaan yang lebih baik. Tapi ego dan kondisi lingkungan memang lebih banyak membuat kita menghabiskan waktu yang sia-sia. Jangan sia-siakan saat pikiran positif itu datang dan mengungkap segala kasih sayang orang tua kita! Jalani dan lakukan apa yang masih mampu kita lakukan sebelum ayah dan ibu kita pergi meninggalkan kita, karena kita takkan pernah tahu siapa yang akan pergi lebih dahulu.

Wanita Terlukis Indah di Dunia


Sadarkah para wanita, bahwa sebenarnya mereka itu lebih kuat dibanding dengan pria? Ingatkah pada kasih sayang ibu pada anaknya? Dan bagaimana seorang wanita tetap bertahan sebagai single parent?
Berbagai macam anggapan tentang wanita di zaman yang sudah modern ini semakin ramai bermunculan. Di awali saat Ibu Kartini yang memperjuangkan hak-hak wanita hingga membuatnya sebagai pahlawan bagi para wanita lainnya. Kemudian munculnya banyak wanita karir menjadi sebuah fenomena tersendiri. Namun, dibalik itu semua sebenarnya para wanita memang telah diberikan kekuatan tersendiri oleh Yang Kuasa.
Secara fisik seorang wanita diciptakan memang tak jauh berbeda dari seoarang pria. Namun sebenarnya terdapat banyak perbedaan antara wanita dan pria. Lihatlah tutur katanya yang halus dan lembut, kasih sayangnya yang tulus, tingkah lakunya yang lemah lembut, serta pola pikirnya yang lebih menggunakan perasaan. Mereka diberikan keistimewaan dengan kepekaan perasaannya pada darah dagingnya dan orang-orang terdekatnya.
Lihatlah saat seorang ibu yang baru saja melahirkan, beliau dengan sabar dan lembut menyusui bayinya. Beliau rela tidak tidur semalaman demi menjaga sang bayi agar tidak terganggu oleh nyamuk ataupun terbangun dan menangis. Dengan ketulusan hatinya, beliau Hingga saat sang anak belajar bersepeda, jatuh, dan terluka, ibu takkan marah. Beliau dengan sabar mengobati luka anaknya dan menenangkannya agar tak menangis lagi.
 Kemudian saat sang anak telah tumbuh dewasa dan memutuskan untuk hidup sendiri yang mungkin jauh darinya, beliau hanya menangis terharu dan rela melihat anaknya telah tumbuh dan mampu hidup mandiri. Di saat sang anak telah berada jauh dari ibunya, dan ia mengalami sebuah hal yang menyedihkan atau musibah, ibu dengan kepekaannya seakan tahu apa yang dirasakan oleh anaknya. Hanya ibu lah yang mengerti bagaimana cara mengasuh anak dan menyayanginya sepenuh hati, hingga dalam saat apapun beliau mengerti apa yang dirasakan oleh anaknya. Seperti yang digambarkan oleh sebuah peribahasa kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.
Kemudian dengan berkembangnya zaman, hingga tahun 2010 ini hampir berakhir telah diketahui banyak kasus perceraian dikalangan wanita muda kita. Berbagai macam alas an diungkapkan, entah karena ketidakcocokan atau karena perselingkuhan sang suami. Namun meski berbagai macam kasus dan kesedihan  melanda mereka, mereka tetap kuat dan tegar. Mereka rela untuk bertahan tidak menikah lagi dan menjadi single parent bagi anak-anak mereka. Faktanya meskipun kebanyakan wanita korban perceraian tersebut lebih memilih sebagai single parent, tapi mereka masih sanggup membiayai dan menyayangi anak-anak mereka selama bertahun-tahun.
Kemudian ketika seorang wanita memutuskan untuk bekerja, tak main-main mereka rela mengambil resiko pekerjaan yang mungkin itu hanya dilakukan olah para pria. Seperti pernah diketahui dari sebuah stasiun televisi yang menyiarkan tentang berita adanya seorang wanita yang bekerja sebagai sopir bus trans Jakarta. Saat ia ditanya mengapa ia mau bekerja sebagai sopir, ia hanya menjawab bahwa ia ingin menjawab tantangan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh kaum pria tersebut.
Sebenarnya begitu banyak keistimewaan yang dimiliki para wanita, namun mungkin semuanya hanya tertutupi oleh kuasa para pria yang lebih terlihat dan dianggap kuat. Padahal faktanya, wanita lah yang lebih kuat daripada pria. Jadi berbanggalah wahai kaum wanita.