Kamis, 05 November 2015

Road to 16th : Terima Kasih Ultras!

Kami bukan apa-apa tanpa suporter.
Terima kasih Ultras! 

Tepatnya kemarin sore, saya tergesa-gesa berlarian di lorong ganti Stadion Tri Dharma Gresik. Sempat terhenti sejenak untuk bertanya pada beberapa pemain Persegres tentang keberadaan pelatih, lalu saya langsung menuju lapangan. Saat itu tim pelatih sedang mengobrol ringan diselingi canda tawa. Melihat kedatangan saya, salah seorang asisten pelatih, Sasi Kirono memberi kode pada Widodo CP tentang kedatangan saya. Kemudian dengan ringkas saya mengutarakan kedatangan saya ke situ dan beliau langung mengangguk mantap memberi ijin pada saya.
Selagi menunggu para pemain berkumpul di lapangan dan berdoa bersama, beliau sempat mengobrol sedikit dengan saya. Ya, mengenai satu-satunya kelompok suporter terbesar di Gresik, Ultrasmania. Beliau sempat mengatakan pada saya, “Kami ini bukan apa-apa tanpa suporter.”
Saya mengangguk menyetujui pendapat tersebut. Apa artinya sepakbola hanya dengan tim yang berlatih dan bertanding tanpa ada suporter? Suporter berasal dari kata support yang berarti mendukung, jadi suporter berarti pendukung atau orang yang memberi dukungan.
Ultrasmania sendiri merupakan kelompok suporter yang fenomenal dan dikenal sebagai suporter yang cinta damai. Seringkali banyak celetukan, “Gresik itu surganya suporter manapun! Ultrasmania dengan tangan terbuka menyambut saudara-saudara kami suporter dari manapun dan siapapun.” Sejak lama mereka mendukung berbagai aset olahraga Kabupaten Gresik, baik tim sepakbola maupun voli.

Hari ini, 5 November 2015 bertepatan dengan ulang tahun Ultras yang ke-16, saya persembahkan kado spesial untuk teman-teman Ultrasmania dimanapun berada. Bukan hanya dari saya, dari teman-teman pemain sepakbola yang bermain untuk Gresik. Foto tim terbaru (meski masih dalam proses seleksi). Teman-teman pemain, baik yang sedang maupun pernah bermain untuk Gresik juga mengucapkan selamat ulang tahun untuk Ultrasmania. Semoga Ultrasmania selalu kompak dan makin sukses, dan tetap tak pernah lelah mendukung tim kebanggan Gresik. Terima kasih Ultras!

Selasa, 27 Oktober 2015

Sumpah Pemuda dan Juventus Club Indonesia

Kami Poetra Dan Poetri Indonesia Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Air Indonesia
Kami Poetra Dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia
Kami Poetra Dan Poetri Indonesia Mengjoenjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia

Tepat hari ini tanggal 28 Oktober 2015 diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Di Indonesia ada begitu banyak organisasi dan komunitas yang dipelopori dan sebagian besar anggotanya merupakan pemuda pemudi, salah satunya adalah Juventus Club Indonesia. Ya, salah satu komunitas resmi terbesar di Indonesia ini adalah komunitas pecinta Klub Juventus FC. Klub sepakbola Italia yang berlaga di Serie A Liga Italia.

Mengapa Hari Sumpah Pemuda kali ini saya kaitkan dengan Juventus Club Indonesia? Iya, salah satu alasannya adalah karena saya juga merupakan anggota Juventus Club Indonesia (JCI), tepatnya Chapter Gresik. Begitu banyak hal yang dapat saya pelajari selama bergabung dengan komunitas ini. Selain dapat berkumpul dan sharing informasi seputar Juventus bersama teman-teman Juventini dan Juvedonna, saya memahami satu hal, Bhinneka Tunggal Ika. Kami yang tergabung dalam JCI berasal dari berbagai daerah dengan logat, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda. Namun, kami mampu menutupi perbedaan itu dengan indah. Mudahnya berkomunikasi dan menyingkirkan perbedaan arti bahasa, karena kami masih bisa menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Toleransi yang begitu tinggi terhadap perbedaan kultur budaya juga membuat kami menyadari bahwa kami adalah saudara sebangsa dan setanah air.

Juventus Club Indonesia tak hanya merupakan komunitas sepakbola, tapi komunitas ini telah menjadi organisasi pemuda dan pemudi yang peduli bangsa. Menepikan segala ego untuk melakukan perubahan yang baik bagi negeri. Salah satunya dengan Juve for Care. Berulangkali Juve for Care mengadakan lelang jersey dan membuka pre order kaos untuk menggalang dana kepedulian bencana, membangkitkan semangat saudara-saudara yang lain untuk menjadi relawan di daerah yang mendapat bencana, dan masih banyak lagi.

Selain itu, pertemanan kami dalam JCI tak hanya sekedar sebagai sesama fans Juventus. Kami adalah saudara, saudara sebangsa dan setanah air. Ada banyak hal yang dapat kami lakukan bukan hanya sekedar teriak-teriak dan bernyanyi mendukung tim kami berlaga. Kami masih punya jiwa dan raga untuk melakukan perubahan demi Bangsa Indonesia yang lebih baik. Kami masih mampu saling menghargai, menghormati, dan meninggikan toleransi tak hanya dengan sesama suporter, melainkan dengan saudara-saudara kami sebangsa dan setanah air Indonesia.


Juventus Club Indonesia tak hanya ada untuk fans Juventus di Indonesia, tapi kami ada untuk Indonesia… Selamat Hari Sumpah Pemuda, Sups!

Kamis, 08 Oktober 2015

Passion Senior, Semangat Junior!

             Dua hari yang lalu, tepatnya Selasa, 6 Oktober 2015 aku menghabiskan sebagian waktuku berada di Kompleks Olahraga Petrokimia. Setelah lama tidak pergi ke sini entah untuk sekedar melihat anak-anak kecil berlatih sepakbola atau hanya jogging sebentar.

            Sore itu ku awali dengan jogging berkeliling sekitar 4 putaran dengan berhenti sejenak untuk melihat ada anak-anak SSB Petro sedang berlatih sepakbola. Entah ada berapa kelompok usia waktu itu, yang ku lihat hanya sekejap ada perbedaan tinggi badan di antara 3 lingkaran dalam satu lapangan. Mereka beradu skill dengan teman-temannya didampingi pelatih masing-masing. Terkadang ada pula yang berteriak pada pelatihnya agar segera diberi kesempatan bermain.

            Lucu melihatnya. Usia yang masih semuda itu begitu bersemangat berlatih sepakbola tanpa mempedulikan konflik yang terjadi pada para pesepakbola senior mereka. Bahkan mungkin jauh lebih senior dibanding mereka. Sesekali sambil tertawa. Terkadang pula harus saling beradu fisik untuk merebut bola dari kaki temannya yang lain. Namun, tak ada pertengkaran di antara mereka. Hanya terdengar teriakan-teriakan, “Ayo oper sini!” atau “Hei, aku belum dapat bolanya.”

            Setelah beberapa kali berputar melihat mereka selagi jogging, sayup-sayup terdengar suara teriakan-teriakan bermain bola dan peluit dari dalam stadion. Ya, stadion kebanggan publik Gresik semenjak dulu, Stadion Tri Dharma. Setiap Selasa dan Kamis sore, serta Sabtu pagi selalu ramai dengan bapak-bapak karyawan maupun para putra daerah yang ingin berlatih bola bersama.

            Hari itu di lapangan utama yang ku lihat adalah para ‘senior’ yang hamper tak ada yang ku kenal. Iya, bapak-bapak lebih tepatnya. Di sampingnya, track lari digunakan untuk para anak atletik yang sedang latihan marathon dan estafet.  Masih anak-anak lho yang ikut latihan atletik ini, yah sekitar usia SD-SMP sepertinya. Kemudian di lapangan samping tribun ekonomi, A2 ada beberapa putra daerah yang asik bermain bola kucing-kucingan.

            Sebagian besar di antara adalah para pemain sepakbola yang kemarin masih mengikuti kompetisi nasional. Kemudian terhenti karena adanya konflik di tubuh PSSI. Sebut saja, Wismoyo, Agus Indra, Herman Rhomansyah, Ahmad Junaidi, Sauqi, Kurniadi, Mulyanan, dan lainnya. Mereka masih bersemangat bermain sepakbola di tengah kompetisi yang sudah berhenti ini. Canda tawa mereka sesekali terdengar. Aku kagum dengn semangat mereka mencintai sepakbola yang sudah menjadi profesi mereka itu, bukan hanya sekedar hobi maupun passion.

            Lalu perhatianku berpindah dan tertuju pada 2 sosok anak kecil yang sedang bermain bola di belakang gawang. Masih SD nampaknya. Mereka mengambil salah satu bola yang keluar dari lapangan utama dan memainkannya mengoper pada satu sama lain secara bergantian. Canda tawanya terdengar sayup-sayup menggodaku untuk ikut tertawa melihat tingkah laku mereka. Hingga akhirnya aku tertawa lepas sendiri karena melihat salah satu anak tersebut terjatuh saat akan menendang bola pada temannya.

            Temannya ikut tertawa. Anak yang terjatuh ini tak kunjung bangkit dan berdiri. Dia menggosok-gosok pantatnya yang sakit karena terjatuh di lapangan berpasir. Lalu sambil tertawa pula ia meminta temannya untuk mengambilkan bola mereka dan bermain kembali.

            Sejenak aku berpikir, kecintaan seseorang terhadap sesuatu tak pernah bisa meredupkan semangat mereka untuk bangkit dari keterpurukan. Baik yang berusia muda ataupun sudah tua. Jika ada satu pintu yang tertutup, masih ada pintu lain yang sedang terbuka. Para senior memberikan contoh semangat yang tak pernah padam untuk berusaha lebih baik, inilah yang dapat dijadikan contoh untuk para junior agar dapat menjadi lebih baik dari senior mereka. Selamat berjuang senior! Selamat berusaha lebih baik lagi adik-adik junior!

Kamis, 04 Juni 2015

Juventus Club Indonesia Chapter Gresik - Makin Berisik Makin Asik


Juventus Club Indonesia adalah komunitas pecinta Juventus resmi di Indonesia dan diakui oleh Juventus FC Italia. Di Indonesia, komunitas ini berkembang pesat hingga hadir hampir di setiap kota, salah satunya di Gresik. Kota kecil yang berada di ujung timur Pulau Jawa ini memiliki komunitas bernama Juventus Club Indonesia Chapter Gresik atau biasa disebut dengan JCI Gresik.

JCI Gresik lahir pada 28 Maret 2010. Diawal terbentuknya komunitas ini, hanya ada 4 orang pencetus yang memutuskan untuk melepaskan diri dari JCI Surabaya. Hingga akhirnya saat ini memiliki hampir 150 anggota, baik member maupun non member. Komunitas ini juga dianggap sebagai komunitas tertua di Gresik.

JCI Gresik memiliki agenda rutin, yakni mengadakan nonton bareng (nobar), kopi darat (kopdar), gathering, futsal dan olahraga bersama, hingga berbagai kegiatan sosial lainnya. Bukan hanya para lelaki yang bergabung di komunitas ini, tapi para wanitanya juga ada. Mereka tergabung atas entitas Juvedonna Chapter Gresik. Juvedonna Gresik terbentuk dibawah naungan JCI Gresik. Entitas ini resmi lahir pada 27 Februari 2014.


JCI Gresik bersama Juvedonna Gresik menjadi sebuah komunitas pecinta sepakbola saja, namun dalam perjalannannya juga merupakan komunitas yang peduli sekitar. Kegiatan yang dilakukan bukan hanya semata-mata tentang Juventus. Kegiatan rutin dibulan ramadhan juga dilakukan dengan membagi takjil pada masyarakat sekitar Gresik. Selain itu, mereka juga bersilaturahmi dengan komunitas-komunitas lain di Gresik. Misalnya dengan Ultrasmania yang notabene merupakan komunitas suiporter terbesar di Gresik, kemudian ada Milanisti Gresik, Madridista Gresik, FCBI Gresik (Barcelona), ICI Gresik (Inter Milan), Romanisti Gresik, LFC Gresik (Liverpool), AIS Gresik (Arsenal), CFC Gresik (Chelsea), dll.

Untuk lebih lengkapnya, silakan kunjungi halaman facebook dan twitter JCI dan Juvedonna Gresik.
Grup facebook : Juventus Club Indonesia - Chapter Gresik
Fanpage : Jci Chapter Gresik
Twitter :
@JCI_Gresik
@DonnaJCI_Gresik

Fino alla fine forza Juventus!

Minggu, 05 April 2015

Catatan Harian : Persegres Versus Pusamania Borneo

05 April 2015

Stadion Tri Dharma Petrokimia Gresik sedang riuh dengan suara gemuruh suporter Ultrasmania yang mendukung tim kesayangan mereka bertanding. Sore ini pertandingan dalam Liga Super Indonesia Musim Kompetisi 2015 dimulai dengan mempertemukan tim tuan rumah Persegres Gresik melawan Pusamania Borneo (PBFC). Pertandingan yang cukup keras dengan melihat materi pemain kedua tim yang memiliki karakter hampir mirip. Permainan kedua tim pun berjalan cukup ketat dengan alur cepat. 

Berulang kali pemain tuan rumah mencoba membobol gawang PBFC tapi nampaknya masih cukup dimentahkan Galih Sudaryono. Masih saya ingat betul ketika Riko Simanjutak mencoba melakukan tendangan langsung ke gawang dan ternyata masih sanggup ditepis kiper PBFC. Seketika itu saya mulai paham, tim Persegres ini masih butuh relaksasi yang cukup agar para pemainnya mampu mengendalikan fokus diri dalam bermain. Terkadang melihat atmosfir suporter yang tentu saja menuntut kemenangan dapat membuat pemain makin tergesa-gesa dalam melakukan tendangan langsung.

Kemudian kekaguman saya pada Riko muncul ketika dia mampu mengendalikan diri untuk tidak memaksakan menendang langsung ke gawang lawan. Sejenak ia mundur dan memilih mengoper bola pada Yusuf Efendi, hingga akhirnya Yusuf yang mengeksekusi bola. Goool... Skor 1-0 pun membuat pemain Persegres makin bersemangat menambah pundi-pundi gol.

Setelah keunggulan 1-0 yang kemudian ditambah oleh gol dari Riko, permainan ternyata semakin memanas. Masih ada kartu-kartu kuning lain yang dikeluarkan wasit dari kantongnya. Pemain tim lawan pun makin keras dalam melakukan perlawanan.Dalam permainan yang semakin keras ini, setiap pemain diuji untuk lebih mengendalikan emosinya. Ketika mudah terpancing oleh emosi lawan, maka fokus diri pun akhirnya berubah. Bahkan, hal ini bisa mengakibatkan fisik lebih mudah lelah dan suhu tubuh makin meningkat.

Babak kedua, permainan keras kedua tim semakin menjadi-jadi. Lagi-lagi harus ada kartu kuning yang dikeluarkan wasit, ini berakibat buruk pada masing-masing tim. Pemain tim tuan rumah kembali terpancing dengan permainan keras lawan, hingga beberapa kali diantara mereka harus jatuh bangun. Kondisi babak kedua yang seperti ini sudah saya perhatikan sejak musim-musim lalu, berhubungan dengan fokus pada permainan tim. Pemain terlihat mudah lelah, malas mengejar bola, sedikit-sedikit akhirnya terjatuh atau kalah saat terkena tackling (yang menurut saya banyak yang bersih).

Tak lama kemudian, gol balasan dari PBFC pun terjadi. Skor kemudian berubah menjadi 2-1 hingga peluit terakhir dibunyikan. Banyak hal yang sangat disayangkan dari pertandingan hai ini, tentu saja diluar faktor pengadil lapangan yang menjadi 'raja'. Ya, masalah emosi dan fokus. Padahal dengan didatangkannya pelatih fisik di tim Persegres sudah cukup mampu meningkatkan performa pemain. Sayangnya hal tersebut belum diimbangi dengan adanya perbaikan emosi dan fokus dari para pemain. Semoga menjadi evaluasi tersendiri bagi tim pelatih.

Rabu, 24 September 2014

Bisnis dengan Allah : Membantu Orang Lain


24 September 2014 19:45


Pagi ini seperti pagi biasanya, jam 7 sampai jam 9 aku harus membersihkan kandang kelinciku satu-satunya baru kemudian aku membersihkan rumah. Bapak pun bersiap-siap masuk kantor dan berkeliling kota lagi. Tapi ada sedikit yang berbeda dipagi ini, ada sebuah pesan masuk ke ponselnya yang mengatakan bahwa barang yang diinginkan Bapak sudah siap, apakah jadi diambil atau tidak. Setidaknya orang tersebut menunggu kepastian dari Bapak dalam beberapa hari kedepan.            

Bapak yang sembari bersiap kemudian memencet sebuah nomor untuk menelepon, nomor temannya. Beliau menawarkan barang yang memang sekiranya sudah ikhlas dilepas. Semua dikatakan apa adanya, kondisi barang, harga, hingga alasan mengapa menawarkan barang tersebut tak luput disebutkan. Hingga kemudian beliau memanggilku dan menjelaskan segala macam proses pelepasan barang tersebut. Bapak selalu berbagi apa yang memang dapat membuatku belajar banyak mengenai kehidupan, kemudian percakapan serius pun dimulai.            

Beberapa kali keluarga kami sempat dicap sebagai keluarga yang sering berganti kendaraan. Ya, hampir setiap tahun. Sekian lama proses tersebut, Bapak selalu menjelaskan padaku bahwa beliau memang lebih memilih investasi dengan kendaraan daripada properti atau yang lain. Kemudian Bapak bertanya padaku apakah aku tahu alasan yang sebernarnya menggunakan jalur investasi ini, padahal sudah jelas bahwa harga kendaraan selalu turun setelah dipakai. Pasti ada kerugian harga dibaliknya.         

“Kamu tahu kenapa Bapak lebih memilih investasi dengan ini?”           

“Enggak. Setahuku sekali-sekali kan Bapak bisa invest rumah atau tanah. Tiap tahun kan harganya naik, ada untungnya dari situ.”            

“Iya, Ibumu dan orang-orang juga sering bilang gitu.”            

Aku yang berbicara sambil minum obat flu pun berhenti sejenak. Pandangan kami sama-sama serius di depan meja makan. Kemudian Bapak mulai menjelaskan lagi, “Inves tanah dan rumah itu memang menguntungkan, tiap tahun harganya naik banyak. Banyak orang juga kan yang nyari dan lama-lama dapatnya juga makin sedikit.”            

Aku mengangguk pelan.

“Aku milih jalan ini soalnya aku kasihan sama orang lain. Mereka yang butuh rumah dan butuh tanah. Makin tahun makin mahal, terus makin sempit kan dapatnya? Nanti kalau mereka nggak punya uang gimana? Kamu tega ngambil jatahnya orang lain?”            

Tubuh dan otakku rasanya lemas mendengar penjelasan itu. Aku cuma bisa diam melihat beliau dengan serius menekankan kalimat-kalimat terakhir itu.            

“Aku nganggep ini jalanku bantu orang lain. Anggep aja aku ini bisnis sama Allah, dengan bantu orang lain. Aku nggak butuh jadi orang kaya raya. Punya banyak rumah dimana-mana atau punya tanah terus dijual lagi tahun depannya. Bagiku segini udah cukup. Sama kayak aku nabung di bank, dapat bunga juga termasuk riba’. Itu makanya langsung aja ngambil buat kebutuhan sendiri atau bantuin yang lain yang emang lebih butuh.”            

Kali ini pertahananku runtuh. Mataku sudah berkaca-kaca tak sanggup menatap imam keluarga kecilku ini. Aku berpura-pura mengambil air minum sambil mendengarkan penjelasan beliau yang sukses meluluhkan hatiku. Lalu bapak menanyaiku lagi, “Sekarang kamu sudah paham kenapa aku gini?”           

 Aku cuma mengangguk pelan tanda setuju. Kemudian beliau pergi ke kamar untuk bersiap-siap ke kantor. Sampai aku membukakan pintu pagar dan menutupnya kembali setelah beliau pergi, air mataku akhirnya turun juga. Sungguhlah beruntung aku ini dibanding mereka-mereka yang mungkin memiliki segalanya atau malah menganggapku memiliki segalanya. Setidaknya keberuntunganku adalah memiliki seorang ayah yang tak hanya mengajarkanku cara bertahan hidup dengan logika dan kenyataan, tapi dengan bekal agama dan keimanan untuk akhiratku.

Rabu, 04 Juni 2014

Sepucuk Surat untuk Super Dad


04 Juni 2014    20:30

            Hari ini terhitung satu hari sebelum ulang tahun Bapak. Aku ingin mencoba sedikit mengenang hal-hal kecil tapi bermakna yang sudah ku lewati bersama beliau.
            Bapak. Ya, panggilan yang sangat simpel bagi orang Indonesia untuk seorang laki-laki yang lebih tua dan lebih dihormati. Dulu dimasa kecilku masih ku panggil Papa, tapi karena suatu hal dis ekolahku TK membuatku pulang ke rumah dengan tiba-tiba memanggilnya Bapak. Kini mungkin tak cukup lagi rasanya aku memanggil Bapak, karena bagiku panggilan yang paling tepat untuk beliau adalah ‘Superdad’.
            Lelaki super yang tak pernah mudah menyerah meski mendapat berbagai macam godaan dalam profesinya. Simpel tapi selalu mencoba memperlihatkan sosok yang kuat dan tegar sebagai lelaki. Profesional meski terkadang sudah terlihat jelas kantung matanya. Bijak dan tak pernah mencoba memaksaku untuk hal-hal yang dirasa tidak sesuai dengan hatiku. Sabar memberikanku pengertian, menceritakan pengalaman yang mungkin bisa terjadi dimasa mendatang. Luas ilmu, baik mengenai agama, disiplin ilmu formal, serta memberikanku perluasan otak dan hati untuk segala macam hal.
            Jika ditanya soal pekerjannya, beliau selalu terang-terangan mengatakan ‘serabutan’. Sebuah kata yang lebih bermakna negatif bagi beberapa orang. Beliau hanya menjelaskan pekerjaannya begitu tidak pasti. Tak juga membuatnya puas diri jika mendapat rezeki yang berlimpah (suatu saat). Ilmunya ketika mendapat rezeki, selalu dikatakan padaku bahwa sebagian dari rezeki itu masih milik mereka yang berkekurangan. Seperti yang selalu dipesankan oleh Bapak, “Kerja itu yang tulus biar bawa berkah”.
            Sosoknya yang terlihat simpel, tak pernah malu ke sana ke mari hanya menggunakan baju koko, sarung, dan peci.Bukan hanya menerima tamu, menjemputku ke sekolah, atau bahkan pulang ke kampung halaman pun sudah biasa menggunakan kostum ‘kebesaran’ itu. Mungkin aku pernah merasa aneh, tapi kini tidak lagi. Inilah beliau, sosok Bapak yang memberikanku pemahaman mendalam mengenai agama berawal dari kostum.
            Berusaha untuk selalu profesional dengan segala tanggung jawab yang diberikan, meski terkadang merasa lelah adalah hal yang biasa. Beliau lebih memilih untuk menghormati kontrak yang sudah disepakati daripada harus mundur karena alasan lelah atau ragu. Bapak selalu mengatakan padaku, “Kalau ragu ya jangan dilakukan, ikuti kata hati dan jangan lupa istikharah”. Ketegasan yang beliau ajarkan padaku jika suatu saat kontrak tersebut cacat, baru diperbolehkan mengundurkan diri. Itu pun dengan tidak menuntut. Seperti kata beliau padaku, “Selalu ada pintu lain yang terbuka ketika satu pintu ditutup.”
            Bapak bukanlah seorang tokoh agama,bukan pula seorang guru. Bapak bahkan tumbuh dalam keluarga yang biasa dan pernah mengalami banyak pengalaman tak menyenangkan. Pernah pula mendapat cobaan berat yang mengharuskan beliau memulai segalanya dari awal lagi, baik secara psikis maupun fisik. Namun, pengalamannya itu membuatnya semakin kokoh berdiri. Jika terjatuh, beliau tak hanya mengusahakan dirinya bangkit sendiri. Beliau juga berusaha membuat orang-orang yang sayang padanya ikut bangkit dan tetap bersemangat menjalani hidup.
            Banyak hal yang bisa ku ceritakan padanya. Bukan sekedar berbicara atau curhat tentang kehidupanku sehari-hari,dari ilmu agama, politik, hukum, ilmu hidup, bahkan cinta pun bisa disharingkan. Terang-terangan beberapa kali ketika teman-temanku resah tentang kehidupan cintanya, aku pun membaginya pada Bapak dan mencoba melihat cerita itu dari sisi yang lain. Beliau pun tak pernah segan berbagi jika sedang membutuhkan saran atau hanya sekedar ingin berbagi pengalaman. Beliau jg memberikan berbagai macam pandangan yang sebelumnya mungkin tak pernah ku kira. Bahkan aku juga berani menceritakan apa yang ku rasakan pada sosok laki-laki yang sedang dekat denganku. Bagiku, beliau adalah waliku. Wali nikahku nanti. Apapun yang beliau ceritakan padaku, jika itu baik akan ku ikuti. Bapak tak pernah menuntut apa-apa, namun pesannya hanya satu, “Yang penting itu agamanya, rezeki itu ada yang ngatur.”
            Sampai saat ini, semuanya berjalan lebih indah. Bapak sebagai sosok kepala keluarga, imam keluarga, bos, atau bahkan bisa disebut kapten sudah memberikan segala yang terbaik untuk kami, terutama untukku sebagai anak satu-satunya. Kini dibidang pilihanku, psikologi olahraga pun beliau tidak merasa keberatan jika aku harus berkutat dengan para atlit lelaki. Beliau selalu membuatku menemukan mana passionku. Tak hanya secara logika atau perasaan, secara agama pun beliau menuntunku menemukan mana takdirku.
            Selamat menempuh usia baru Bapak! Dengan berkurangnya usia ini, semoga semuanya selalu berjalan lebih baik. Terima kasih sudah membuatku menemukan kepuasan secara psikis dan fisik. Barakallahfii umrik Abah…