Tampilkan postingan dengan label Ultras. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ultras. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 November 2016

Belajar Mencintai dengan Sederhana dari Ultras

Saya mungkin sudah tak ingat kapan pertama kali melihat penampilan salah satu kelompok suporter terbaik di Indonesia ini. Ultras namanya, kepanjangan dari Ulah Terampil dan Rasional. Saya cuma ingat, selalu melihat ribuan orang yang bernama Ultras ini berkumpul di Stadion Petrokimia ketika Petrokimia Putra bertanding. Saat itu yang bisa saya rasakan cuma satu, merinding. Anak sekolah ini merinding disko waktu melihat tribun stadion bagaikan lautan kuning yang mengelilingi lapangan.
Entah itu sudah berapa tahun lalu, mungkin 10 tahun lebih. Kelompok suporter ini berkembang pesat, mulai dari anggotanya, hingga kreativitasnya. Kecintaannya pada sepakbola Gresik juga semakin pekat. Kesetiaannya mendampingi tim mulai jaman Petrokimia Putra, Gresik United, hingga sekarang Persegres Gresik United pun sudah tak perlu diragukan.
Pemain yang datang, pergi, dan kembali lagi juga selalu mengingat Ultras. Ketika saya mengobrol dengan Coach Sasi Kirono yang dulu juga membela Petrokimia Putra, beliau sempat bercerita sedikit tentang awal mula Ultras. “Dulu jaman saya main di Petro, Ultras itu paling cuma 20an orang nggak sampai. Itu segelintir orang aja duduk di tribun situ,” ujarnya sambil menunjuk Sektor 3 yang dimaksud.
Cintanya tulus untuk tim. Mereka mencintai tim dengan cara yang sederhana. Kehadirannya hampir di setiap pertandingan, baik di Gresik, maupun di kandang lawan. Nyanyiannya sepanjang pertandingan. Koreografinya yang tak lepas dari gambaran semangat mereka untuk tim. Hingga tulisan-tulisan dan lukisan pada spanduk maupun bendera yang mereka tampilkan. Bagaimana mungkin tak jatuh cinta dengan Ultras?
Suporter dan tim itu bagai sepasang kekasih. Cinta mereka tak lekang oleh waktu. Takkan habis dimakan usia. Dan cinta mereka tak pernah kenal usia. Mulai dari anak-anak hingga kakek nenek pun banyak yang menjadi anggota Ultras. Toleransi mereka terhadap sesama suporter juga tak perlu diragukan. Jumat malam lalu sempat bertemu dengan salah seorang anggota Ultras sepulang dari menonton pertandingan Madura United dengan Persegres GU, teman saya menyapanya dan bertanya kenapa dia naik motor sendirian. Kemudian lelaki ini menjawab, “Iya, soalnya tadi ada cewek naik motor sendirian. Kasihan. Jadi motornya saya bawa, dia biar naik bis aja.”
Ultras mencintai tim dengan cara-caranya sendiri. Menjadi diri sendiri, jati diri Ultras itu sendiri. Jika cinta diukur dari pengorbanan, kehadiran, kesetiaan, kedewasaan, atau bahkan hadiah yang mampu diberikan, Ultras sudah cukup memenuhi segala syarat itu. Sudah cukup telak. Usianya pun tahun ini genap 17 tahun. Mereka tak perlu membuat Surat Ijin Mencintai (SIM) tim. Tujuh belas tahun menjadi usia yang matang bagi kedewasaan manusia, namun Ultras sudah cukup matang seiring perkembangan usianya. Menjadi percontohan suporter yang selalu cinta damai. Lalu, Nikmat-Nya mana lagi yang mau kau dustakan ketika dicintai oleh Ultras?

Rabu, 21 September 2016

Harmoni Keluarga Ultras dan Persegres Gresik United

Satu bersama kita kuat
Satu bersama kita hebat
Dalam satu lingkaran kebersamaan
Kita merapat tuk satu tujuan

Kan ku jaga semangatmu
Kan ku ukir di jiwaku
Demi kejayaan Gresik Unitedku
Lepaskan semua egomu
Tunjukkanlah loyalitasmu
Ultras Gresik kan selalu mendukungmu
           (Ukiran Jiwa-Ultrasmania Gresik)

          Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, sayup-sayup terdengar suara Ultrasmania di Sektor 5 sedang menyanyi dengan semangat untuk mendukung tim kesayangan mereka, Persegres Gresik United. Meski pertandingan berlangsung cukup malam, namun hal itu ternyata tidak mengurangi semangat para Ultras untuk terus menyanyi sepanjang pertandingan.
         Hari itu entah yang keberapa kalinya saya salut mendengar suara nyanyian Ultras yang tak kenal lelah bernyanyi dan bergerak membuat koreografi. Terlihat luar biasa bagi kami yang berada jauh dari tribun Sektor 5, bahkan sampai merinding dan terharu melihatnya.
       Pemain-pemain asli Gresik tidak pernah dapat memungkiri bahwa peranan Ultras begitu besar bagi performa tim. Hal itu pula yang membuat mereka enggan pergi dari publik Gresik. Tak jauh beda dengan pemain-pemain asli Gresik, para pemain yang berasal dari luar Gresik pun mengatakan bahwa Ultras merupakan suporter yang luar biasa. Loyalitasnya sudah tak perlu dipertanyakan lagi.
        Kekaguman saya berlanjut ketika terjun langsung dalam penyusunan profil pemain Persegres Gresik United untuk buletin Joko Samudro News. Mencari info dan mewawancarai pemain bukan hanya tentang tim, melainkan juga bagaimana kesan mereka terhadap atmosfir sepakbola di Gresik, Ultrasmania khususnya. Hampir semua pemain mengatakan bahwa Ultras menjadi salah satu faktor terkuat yang membuat mereka betah berada di Gresik.
          Sekian banyak pemain yang sempat saya tanya pendapatnya perihal Ultras, saya paling ingat dengan perkataan dari Muhammad Rifqi, “Seumur hidupku, baru ini didukung suporter yang loyal.”
         Pelatih-pelatih yang sempat menangani Persegres Gresik United juga mengutarakan hal yang sama. Beberapa waktu lalu, Coach Liestiadi sempat mengatakan, “Tanpa Ultras, Persegres bukanlah apa-apa.”
Seminggu yang lalu, saya sempat bertemu dengan Coach Widodo dan saat itu beliau langsung berkata, “Ultras luar biasa ya sekarang!” 
Tak jauh beda dengan yang beliau utarakan pada saya ketika tahun lalu meminta ijin untuk foto tim sebagai kado ulang tahun Ultras, “Kami bukan apa-apa tanpa Ultras.”

We are not just a team, we are family. (Sumber: https://twitter.com/persegresfc)

    Perkembangan jaman pun memiliki peran penting terhadap Ultrasmania. Teknologi ponsel yang memudahkan masyarakat untuk bersosial media membuat jarak antara manajemen, pelatih, pemain, dan Ultras lebih dekat. Sebut saja aplikasi Instagram, siapa yang tidak punya aplikasi tersebut di ponselnya. Berbagai macam foto dan video yang diunggah pemain dan Ultras membuat pengalaman mereka makin meluas dan diketahui khalayak banyak.
     Bahkan pemain seperti Riyandi Ramadhana, Inkyun Oh, dan Patrick da Silva seringkali berbalas komentar dengan Ultrasmania. Hal ini secara tidak langsung membuat masing-masing elemen penentu kesuksesan tim semakin dekat dan akrab. Seperti yang pernah ditampilkan pada koreo Ultras, ‘Kemenangan Berawal dari Keharmonisan.’
     Sadarilah bahwa sebenarnya kesuksesan sebuah tim bukan hanya bergantung pada pemain atau pelatih saja. Jika tim adalah keluarga kecil, maka manajemen, pelatih, pemain, dan suporter adalah sebuah keluarga besar. Kesuksesan sebuah keluarga ditentukan oleh bagaimana kekompakan anggota di dalamnya. Masing-masing mampu menjalankan peranannya dengan baik. Ya, kesuksesan Persegres Gresik United bergantung pada kekompakan tim dan Ultrasmania.


Gresik, 21 September 2016

Kamis, 05 November 2015

Road to 16th : Terima Kasih Ultras!

Kami bukan apa-apa tanpa suporter.
Terima kasih Ultras! 

Tepatnya kemarin sore, saya tergesa-gesa berlarian di lorong ganti Stadion Tri Dharma Gresik. Sempat terhenti sejenak untuk bertanya pada beberapa pemain Persegres tentang keberadaan pelatih, lalu saya langsung menuju lapangan. Saat itu tim pelatih sedang mengobrol ringan diselingi canda tawa. Melihat kedatangan saya, salah seorang asisten pelatih, Sasi Kirono memberi kode pada Widodo CP tentang kedatangan saya. Kemudian dengan ringkas saya mengutarakan kedatangan saya ke situ dan beliau langung mengangguk mantap memberi ijin pada saya.
Selagi menunggu para pemain berkumpul di lapangan dan berdoa bersama, beliau sempat mengobrol sedikit dengan saya. Ya, mengenai satu-satunya kelompok suporter terbesar di Gresik, Ultrasmania. Beliau sempat mengatakan pada saya, “Kami ini bukan apa-apa tanpa suporter.”
Saya mengangguk menyetujui pendapat tersebut. Apa artinya sepakbola hanya dengan tim yang berlatih dan bertanding tanpa ada suporter? Suporter berasal dari kata support yang berarti mendukung, jadi suporter berarti pendukung atau orang yang memberi dukungan.
Ultrasmania sendiri merupakan kelompok suporter yang fenomenal dan dikenal sebagai suporter yang cinta damai. Seringkali banyak celetukan, “Gresik itu surganya suporter manapun! Ultrasmania dengan tangan terbuka menyambut saudara-saudara kami suporter dari manapun dan siapapun.” Sejak lama mereka mendukung berbagai aset olahraga Kabupaten Gresik, baik tim sepakbola maupun voli.

Hari ini, 5 November 2015 bertepatan dengan ulang tahun Ultras yang ke-16, saya persembahkan kado spesial untuk teman-teman Ultrasmania dimanapun berada. Bukan hanya dari saya, dari teman-teman pemain sepakbola yang bermain untuk Gresik. Foto tim terbaru (meski masih dalam proses seleksi). Teman-teman pemain, baik yang sedang maupun pernah bermain untuk Gresik juga mengucapkan selamat ulang tahun untuk Ultrasmania. Semoga Ultrasmania selalu kompak dan makin sukses, dan tetap tak pernah lelah mendukung tim kebanggan Gresik. Terima kasih Ultras!