Kamis, 19 November 2015

Review Pertandingan Persegres Gresik : Kecemasan dalam Olahraga

Track Record Pertandingan
-          Melawan tim yang dianggap besar atau banyak pemain bintang (timnas)

a.       Arema Vs Persegres (3 kali kalah dan 3 kali seri)
Skor
Kompetisi/Tahun
2-1
ISL/2013
1-1
ISL/2013
5-0
ISL/2014
0-0
ISL/2014
0-0
Uji coba/2015
4-1
Piala Sudirman/2015

b.       Sriwijaya Vs Persegres (5 kali kalah, 1 kali seri, 1 kali menang)
Skor
Kompetisi/Tahun
5-1
ISL/2012
3-0
ISL/2012
2-1
ISL/2013
4-3
ISL/2013
0-0
ISL/2014
0-3
ISL/2014
1-0
Piala Sudirman/2015

c.      Persib Vs Persegres (4 kali kalah dan 2 kali menang)
Skor
Kompetisi/Tahun
0-2
ISL/2012
1-0
ISL/2012
2-1
Inter Island Cup/2012
3-1
ISL/2013
1-2
ISL/2013
4-1
ISL/2014


-          Melawan tim yang dianggap selevel atau papan tengah
a.       Persela Vs Persegres (1 kali kalah, 1 kali seri, 2 kali menang)
Skor
Kompetisi/Tahun
2-3
ISL/2011
6-2
ISL/2012
1-1
ISL/2013
0-1
Uji Coba/2015

b.      PBR Vs Persegres (3 kali kalah, 1 kali seri, 1 kali menang)
Skor
Kompetisi/Tahun
6-1
ISL/2012
4-0
ISL/2012
1-2
ISL/2013
0-0
ISL/2014
4-1
ISL/2014

c.       Persija Vs Persegres (1 kali kalah, 2 kali seri, 1 kali menang)
Skor
Kompetisi/Tahun
2-0
ISL/2012
0-2
ISL/2012
2-2
ISL/2013
1-1
ISL/2014

-          Melawan tim yang dianggap tidak diunggulkan
a.       Persita Vs Persegres (2 kali kalah dan 1 kali seri)
Skor
Kompetisi/Tahun
2-2
ISL/2013
2-0
ISL/2013
3-2
ISL/2014

b.      Persiba Balikpapan Vs Persegres (1 kali kalah, 1 kali seri, 1 kali menang)
Skor
Kompetisi/Tahun
2-0
ISL/2012
1-2
ISL/2013
1-1
ISL/2013

Kesimpulan Sementara

Berdasarkan hasil statistik pertandingan di atas dapat diketahui bahwa ketika Persegres melawan tim-tim yang dianggap levelnya di atas/besar (dengan pemain bintang), seringkali kalah. Ketika Persegres berhadapan dengan tim-tim yang levelnya berada tidak jauh dari mereka atau di bawahnya, hasilnya belum terlihat stabil. Beberapa pertandingan berhasil mereka taklukkan, lainnya mereka masih mendapat hasil seri, bahkan ada yang kalah. Hal ini dapat disebabkan oleh kecemasan yang menurun dibandingkan dengan pertandingan yang melawan tim-tim besar seperti sebelumnya. Ada kalanya, atlet merasa diri mereka sudah siap namun terrnyata kondisi di lapangan berbeda, sehingga kesiapan mental yang belum matang akan membuat mereka sulit beradaptasi dengan kondisi di lapangan. Hasilnya dapat diketahui bahwa beberapa pertandingan mereka menuai kekalahan.
Hasil pertandingan tersebut dapat terjadi akibat berbagi macam faktor, misalnya kekuatan fisik yang kurang maksimal, teknik yang masih perlu diasah kembali, kekompakan antar pemain yang belum cukup, kurangnya waktu latihan atau mepetnya waktu bertanding, atau bisa juga karena kurangnya kesiapan mental. Dalam hal ini, penulis akan lebih memfokuskan pada kesiapan mental atlet mengenai kecemasan. Terkadang atlet suatu tim akan merasa minder atau inferior ketika menghadapi tim yang sudah lebih terkenal dengan materi pemainnya dan peringkatnya berada di atas level tim mereka. Rasa minder atau inferior ini dapat dihubungkan dengan kecemasan atau ketegangan atlet ketika sebelum, saat, atau setelah bertanding.

Kecemasan dalam Olahraga
            Kecemasan merupakan hal yang wajar dan biasa terjadi pada manusia, termasuk atlet. Kecemasan seringkali muncul baik sebelum, saat, maupun di akhir sebuah pertandingan atau perlombaan. Perasaan cemas yang muncul pada diri atlet dapat terjadi akibat adanya tekanan baik dari dalam diri mereka atau di luar. Hal tersebut dapat disebabkan oleh sifat kompetisi yang mereka ikuti, perubahan kondisi permainan atau pertandingan, ataupun kondisi alam yang dapat membuat menurunnya kepercayaan diri dan penampilan atlet.
            Kecemasan dalam olahraga seringkali disebut dengan competitive anxiety. Kecemasan menurut Weinberg dan Gould (2003) adalah keadaan emosi negatif yang ditandai dengan gugup, khawatir, ketakutan, dan berhubungan dengan aktivasi atau kegairahan dalam tubuh (Mylsidayu, 2014). Gejala cemas biasanya bukan hanya terdapat keluhan psikis (khawatir, takut), melainkan juga fisik (somatik). Ketegangan dan kecemasan memiliki hubungan yang erat dalam kegiatan olahraga. Beberapa dampak ketegangan akan menimbulkan kecemasan, emosi, ketegangan pada otot, dan koordinasi.

Jenis Kecemasan
Menurut Spielberger (1966) kecemasan terbagi atas 2 jenis, yakni (Martens, Vealey, & Burtons, 1990):
1.       1. State anxiety mengacu pada keadaan emosi yang ada ditandai dengan ketakutan dan ketegangan. Biasanya ditandai dengan takut gagal dalam pertandingan, takut cedera, takut akan kondisi fisiknya yang membuatnya tidak dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik, atau takut terhadap perlawanan dari lawannya.
2.        2.  Trait anxiety merupakan kecenderungan untuk memahami situasi tertentu sebagai ancaman. Trait anxiety memberikan gambaran berlebihan mengenai kecemasan yang terjadi pada atlet. Hal ini seringkali menjadi penghambat atlet untuk berpenampilan baik.
  
Pengaruh Kecemasan
Pengaruh kecemasan pada atlet di antaranya adalah (Gunarsa, 2008):
1.      1. Gelisah.
2.      2. Emosi naik turun, sehingga penampilan saat bermain lebih banyak dikuasai emosi sesaat. Gerakan seringkali   di luar kendali pikiran.
3.     3. Konsentrasi terhambat yang berakibat pada kemampuan berpikir menjadi kacau dan kecermatan membaca   permainan lawan menjadi berkurang.
4.      4. Ragu-ragu dan cenderung tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
5.      5. Irama permainan sulit dikendalikan.
6.      6. Pengaturan ketepatan waktu untuk bereaksi berkurang.
7.      7. Pemakaian energi menjadi boros, sehingga atlet akan cepat merasa lelah.

Sumber Kecemasan
Sumber kecemasan dapat berasal dari dalam dan luar diri atlet, di antaranya (Gunarsa, 2008):
a.       Sumber dari dalam:
  •  Atlet terlalu terpaku dengan kemampuan teknisnya. Seringkali atlet terbebani oleh pikiran-pikirannya sendiri bahwa ia harus tampil sangat baik.
  • Munculnya pikiran negatif seperti takut akan dicemooh penonton apabila menampilkan permainan yang kurang baik.
  • Pikiran atlet terpaku dengan kepuasan subjektif. Mereka khawatir tidak mampu memenuhi keinginan pihak luar seperti pelatih dan penonton, sehingga dapat menimbulkan ketegangan baru.

b.      Sumber dari luar:
  • Munculnya rangsangan yang dapat membingungkan atlet seperti tuntutan atau harapan dari luar yang dapat membuat atlet ragu karena merasa sulit memenuhi hal tersebut. Hal ini juga dapat menimbulkan berkurangnya kepercayaan diri atlet.
  • Pengaruh massa dalam suatu pertandingan memliki pengaruh yang besar pada penampilan atlet, terutama apabila pertandingan tersebut sangat ketat dan menegangkan.
  • Pelatih yang bersikap tidak mau menghargai atlet atau anak didiknya yang telah berusaha dapat mengguncang kepribadian atlet.
  •  Adanya saingan lain yang sebenarnya bukan lawan tandingnya, seperti ketakutan untuk tidak dapat menghasilkan poin, sehingga ia lebih mempercayakan kesempatan pada temannya.
  • Hal-hal non teknis seperti kondisi cuaca, lapangan, atau peralatan yang dianggap kurang mendukung.
Cara Mengatasi Kecemasan
            Menurut Gunarsa (1996), ada beberapa cara untuk mengatasi atau mengurangi kecemasan, yaitu (Myslidayu, 2014):
  • Menggunakan obat-obatan yang sesuai dengan petunjuk dokter. Namun, hal ini jarang digunakan karena penggunaan obat-obatan tersebut dapat dianggap sebagai doping.
  • Simulasi. Biasanya diadakan sparing partner atau uji coba untuk mensimulasikan kondisi pertandingan yang sesungguhnya.
  •  Meditasi atau relaksasi. Metode ini sering digunakan karena merupakan metode yang sederhana dan dapat sampai pada visualisasi untuk mengubah sikap. Latihan relaksasi dapat mengurangi reaksi emosi pada saraf pusat maupun saraf otonom, selain itu relaksasi dapat meningkatkan perasaan sehat dan bugar.
  • Metode kognitif. Atlet dibantu untuk lebih menyadari kompetensi dirinya, berpikir positif, memahami makna dan usaha, serta belajar menerima keadaan yang harus dihadapinya.

Saran
            Untuk menangani atau mengurangi kecemasan pada atlet ketika sebelum, saat, maupun setelah bertanding, dapat dilakukan beberapa hal berikut:

1. Mental imagery
    Salah satu strategi kognitif dengan memvisualisasikan kondisi sedetil mungkin seperti pertandingan sesungguhnya. Membayangkan gerakan-gerakan yang akan dilakukan dengan perlahan dan menggunakan seluruh inderanya untuk memusatkan perhatian pada latihan.

2.     2.   Relaksasi 
  Menenangkan pikiran dengan berbaring atau duduk santai, dimungkinkan untuk memejamkan mata dan   berada di ruangan/tempat yang tenang.
Misalnya, dengan teknik bernapas. Mulailah dalam posisi duduk atlet dapat memungkinkan napas mengalir bebas melalui tubuh. Menutup mata dan mulai mendengarkan pola napas. Kemudian hanya focus bernapas perlahan dan dalam. Mengambil 6 napas penuh dalam, pada hitungan menghirup 6, dan pada napas lagi menghitung sampai 6 lagi. Kemudian biarkan napas mengalir secara alami dari perut. Menjaga perhatian terfokus hanya pada napas. Lalu mulai memvisualisasikan pertandingan atau kompetisi. Apa yang mungkin terjadi? Yang mungkin ada? Bayangkan segala sesuatu di pikiran. Apa yang akan dlakukan? Fokuskan perhatian pada kesuksesan. Bayangkan diri berhasil menyelesaikan semua bagian dari pertandingan tersebut. Jangan biarkan pikiran kegagalan merayap ke untuk proses berpikir untuk merusak kepercayaan diri. Selalu kembali ke fokus pada kesuksesan di pertandingan tersebut. Bayangkan apa yang mungkin merasa seperti, terlihat seperti, bau seperti ketika telah mencapai tujuan. Kembali ke tujuan pada pertandingan tersebut. Lalu lanjutkan dengan visualisasi ini selama 5 menit lagi.

3.      3. Mendengarkan musik
 Teknik ini dapat dilakukan untuk mengurangi kecemasan ketika akan menghadapi pertandingan atau kompetisi.
Mendengarkan musik dengan beat lambat untuk merangsang gelombang otak yang lebih lambat , memungkinkan atlet untuk mengurangi kecepatan pernapasannya, menurunkan denyut jantung dan memungkinkan tubuh untuk menjadi tenang dan santai. Dapat digunakan musik latar belakang untuk membantu mengalihkan perhatian atlet dari pikiran cemas dan meningkatkan perasaan positif. Kemudian, pilih musik dengan lirik yang mendukung afirmasi positif dan pernyataan memotivasi seperti "Inspirasi Pagi" oleh Kotak atau memilih musik yang memiliki konotasi positif misalnya “Laskar Pelangi” oleh Nidji.
4.      4. Self-talk
  Salah satu strategi kognitif dengan teknik berbicara pada diri sendiri bahwa ia mampu melakukan tugasnya dengan baik. Efektivitas teknik ini ditunjukkan ketika atlet mampu menyingkirkan pikiran-pikiran pesimisnya dalam menghadapi pertandingan dan menggantinya dengan ucapan-ucapan optimis.



Referensi:
Gunarsa, S. D. (2008). Psikologi Olahraga Prestasi. Jakarta: Gunung Mulia.
Martens, R., Vealey, R.S., Burton, D. (1990). Competitive Anxiety in Sport. United States: Human     Kinetics.
Mousavi, S.H., Meshkini, A. (2011). The Effect of Mental Imagery upon the Reduction of Athletes` Anxiety during Sport Performance. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences. October 2011, Vol. 1, No. 3.
Mylsidayu, A. (2014). Psikologi Olahraga. Jakarta: Bumi Aksara.

Kamis, 05 November 2015

Road to 16th : Terima Kasih Ultras!

Kami bukan apa-apa tanpa suporter.
Terima kasih Ultras! 

Tepatnya kemarin sore, saya tergesa-gesa berlarian di lorong ganti Stadion Tri Dharma Gresik. Sempat terhenti sejenak untuk bertanya pada beberapa pemain Persegres tentang keberadaan pelatih, lalu saya langsung menuju lapangan. Saat itu tim pelatih sedang mengobrol ringan diselingi canda tawa. Melihat kedatangan saya, salah seorang asisten pelatih, Sasi Kirono memberi kode pada Widodo CP tentang kedatangan saya. Kemudian dengan ringkas saya mengutarakan kedatangan saya ke situ dan beliau langung mengangguk mantap memberi ijin pada saya.
Selagi menunggu para pemain berkumpul di lapangan dan berdoa bersama, beliau sempat mengobrol sedikit dengan saya. Ya, mengenai satu-satunya kelompok suporter terbesar di Gresik, Ultrasmania. Beliau sempat mengatakan pada saya, “Kami ini bukan apa-apa tanpa suporter.”
Saya mengangguk menyetujui pendapat tersebut. Apa artinya sepakbola hanya dengan tim yang berlatih dan bertanding tanpa ada suporter? Suporter berasal dari kata support yang berarti mendukung, jadi suporter berarti pendukung atau orang yang memberi dukungan.
Ultrasmania sendiri merupakan kelompok suporter yang fenomenal dan dikenal sebagai suporter yang cinta damai. Seringkali banyak celetukan, “Gresik itu surganya suporter manapun! Ultrasmania dengan tangan terbuka menyambut saudara-saudara kami suporter dari manapun dan siapapun.” Sejak lama mereka mendukung berbagai aset olahraga Kabupaten Gresik, baik tim sepakbola maupun voli.

Hari ini, 5 November 2015 bertepatan dengan ulang tahun Ultras yang ke-16, saya persembahkan kado spesial untuk teman-teman Ultrasmania dimanapun berada. Bukan hanya dari saya, dari teman-teman pemain sepakbola yang bermain untuk Gresik. Foto tim terbaru (meski masih dalam proses seleksi). Teman-teman pemain, baik yang sedang maupun pernah bermain untuk Gresik juga mengucapkan selamat ulang tahun untuk Ultrasmania. Semoga Ultrasmania selalu kompak dan makin sukses, dan tetap tak pernah lelah mendukung tim kebanggan Gresik. Terima kasih Ultras!

Selasa, 27 Oktober 2015

Sumpah Pemuda dan Juventus Club Indonesia

Kami Poetra Dan Poetri Indonesia Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Air Indonesia
Kami Poetra Dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia
Kami Poetra Dan Poetri Indonesia Mengjoenjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia

Tepat hari ini tanggal 28 Oktober 2015 diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Di Indonesia ada begitu banyak organisasi dan komunitas yang dipelopori dan sebagian besar anggotanya merupakan pemuda pemudi, salah satunya adalah Juventus Club Indonesia. Ya, salah satu komunitas resmi terbesar di Indonesia ini adalah komunitas pecinta Klub Juventus FC. Klub sepakbola Italia yang berlaga di Serie A Liga Italia.

Mengapa Hari Sumpah Pemuda kali ini saya kaitkan dengan Juventus Club Indonesia? Iya, salah satu alasannya adalah karena saya juga merupakan anggota Juventus Club Indonesia (JCI), tepatnya Chapter Gresik. Begitu banyak hal yang dapat saya pelajari selama bergabung dengan komunitas ini. Selain dapat berkumpul dan sharing informasi seputar Juventus bersama teman-teman Juventini dan Juvedonna, saya memahami satu hal, Bhinneka Tunggal Ika. Kami yang tergabung dalam JCI berasal dari berbagai daerah dengan logat, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda. Namun, kami mampu menutupi perbedaan itu dengan indah. Mudahnya berkomunikasi dan menyingkirkan perbedaan arti bahasa, karena kami masih bisa menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Toleransi yang begitu tinggi terhadap perbedaan kultur budaya juga membuat kami menyadari bahwa kami adalah saudara sebangsa dan setanah air.

Juventus Club Indonesia tak hanya merupakan komunitas sepakbola, tapi komunitas ini telah menjadi organisasi pemuda dan pemudi yang peduli bangsa. Menepikan segala ego untuk melakukan perubahan yang baik bagi negeri. Salah satunya dengan Juve for Care. Berulangkali Juve for Care mengadakan lelang jersey dan membuka pre order kaos untuk menggalang dana kepedulian bencana, membangkitkan semangat saudara-saudara yang lain untuk menjadi relawan di daerah yang mendapat bencana, dan masih banyak lagi.

Selain itu, pertemanan kami dalam JCI tak hanya sekedar sebagai sesama fans Juventus. Kami adalah saudara, saudara sebangsa dan setanah air. Ada banyak hal yang dapat kami lakukan bukan hanya sekedar teriak-teriak dan bernyanyi mendukung tim kami berlaga. Kami masih punya jiwa dan raga untuk melakukan perubahan demi Bangsa Indonesia yang lebih baik. Kami masih mampu saling menghargai, menghormati, dan meninggikan toleransi tak hanya dengan sesama suporter, melainkan dengan saudara-saudara kami sebangsa dan setanah air Indonesia.


Juventus Club Indonesia tak hanya ada untuk fans Juventus di Indonesia, tapi kami ada untuk Indonesia… Selamat Hari Sumpah Pemuda, Sups!

Kamis, 08 Oktober 2015

Passion Senior, Semangat Junior!

             Dua hari yang lalu, tepatnya Selasa, 6 Oktober 2015 aku menghabiskan sebagian waktuku berada di Kompleks Olahraga Petrokimia. Setelah lama tidak pergi ke sini entah untuk sekedar melihat anak-anak kecil berlatih sepakbola atau hanya jogging sebentar.

            Sore itu ku awali dengan jogging berkeliling sekitar 4 putaran dengan berhenti sejenak untuk melihat ada anak-anak SSB Petro sedang berlatih sepakbola. Entah ada berapa kelompok usia waktu itu, yang ku lihat hanya sekejap ada perbedaan tinggi badan di antara 3 lingkaran dalam satu lapangan. Mereka beradu skill dengan teman-temannya didampingi pelatih masing-masing. Terkadang ada pula yang berteriak pada pelatihnya agar segera diberi kesempatan bermain.

            Lucu melihatnya. Usia yang masih semuda itu begitu bersemangat berlatih sepakbola tanpa mempedulikan konflik yang terjadi pada para pesepakbola senior mereka. Bahkan mungkin jauh lebih senior dibanding mereka. Sesekali sambil tertawa. Terkadang pula harus saling beradu fisik untuk merebut bola dari kaki temannya yang lain. Namun, tak ada pertengkaran di antara mereka. Hanya terdengar teriakan-teriakan, “Ayo oper sini!” atau “Hei, aku belum dapat bolanya.”

            Setelah beberapa kali berputar melihat mereka selagi jogging, sayup-sayup terdengar suara teriakan-teriakan bermain bola dan peluit dari dalam stadion. Ya, stadion kebanggan publik Gresik semenjak dulu, Stadion Tri Dharma. Setiap Selasa dan Kamis sore, serta Sabtu pagi selalu ramai dengan bapak-bapak karyawan maupun para putra daerah yang ingin berlatih bola bersama.

            Hari itu di lapangan utama yang ku lihat adalah para ‘senior’ yang hamper tak ada yang ku kenal. Iya, bapak-bapak lebih tepatnya. Di sampingnya, track lari digunakan untuk para anak atletik yang sedang latihan marathon dan estafet.  Masih anak-anak lho yang ikut latihan atletik ini, yah sekitar usia SD-SMP sepertinya. Kemudian di lapangan samping tribun ekonomi, A2 ada beberapa putra daerah yang asik bermain bola kucing-kucingan.

            Sebagian besar di antara adalah para pemain sepakbola yang kemarin masih mengikuti kompetisi nasional. Kemudian terhenti karena adanya konflik di tubuh PSSI. Sebut saja, Wismoyo, Agus Indra, Herman Rhomansyah, Ahmad Junaidi, Sauqi, Kurniadi, Mulyanan, dan lainnya. Mereka masih bersemangat bermain sepakbola di tengah kompetisi yang sudah berhenti ini. Canda tawa mereka sesekali terdengar. Aku kagum dengn semangat mereka mencintai sepakbola yang sudah menjadi profesi mereka itu, bukan hanya sekedar hobi maupun passion.

            Lalu perhatianku berpindah dan tertuju pada 2 sosok anak kecil yang sedang bermain bola di belakang gawang. Masih SD nampaknya. Mereka mengambil salah satu bola yang keluar dari lapangan utama dan memainkannya mengoper pada satu sama lain secara bergantian. Canda tawanya terdengar sayup-sayup menggodaku untuk ikut tertawa melihat tingkah laku mereka. Hingga akhirnya aku tertawa lepas sendiri karena melihat salah satu anak tersebut terjatuh saat akan menendang bola pada temannya.

            Temannya ikut tertawa. Anak yang terjatuh ini tak kunjung bangkit dan berdiri. Dia menggosok-gosok pantatnya yang sakit karena terjatuh di lapangan berpasir. Lalu sambil tertawa pula ia meminta temannya untuk mengambilkan bola mereka dan bermain kembali.

            Sejenak aku berpikir, kecintaan seseorang terhadap sesuatu tak pernah bisa meredupkan semangat mereka untuk bangkit dari keterpurukan. Baik yang berusia muda ataupun sudah tua. Jika ada satu pintu yang tertutup, masih ada pintu lain yang sedang terbuka. Para senior memberikan contoh semangat yang tak pernah padam untuk berusaha lebih baik, inilah yang dapat dijadikan contoh untuk para junior agar dapat menjadi lebih baik dari senior mereka. Selamat berjuang senior! Selamat berusaha lebih baik lagi adik-adik junior!

Kamis, 04 Juni 2015

Juventus Club Indonesia Chapter Gresik - Makin Berisik Makin Asik


Juventus Club Indonesia adalah komunitas pecinta Juventus resmi di Indonesia dan diakui oleh Juventus FC Italia. Di Indonesia, komunitas ini berkembang pesat hingga hadir hampir di setiap kota, salah satunya di Gresik. Kota kecil yang berada di ujung timur Pulau Jawa ini memiliki komunitas bernama Juventus Club Indonesia Chapter Gresik atau biasa disebut dengan JCI Gresik.

JCI Gresik lahir pada 28 Maret 2010. Diawal terbentuknya komunitas ini, hanya ada 4 orang pencetus yang memutuskan untuk melepaskan diri dari JCI Surabaya. Hingga akhirnya saat ini memiliki hampir 150 anggota, baik member maupun non member. Komunitas ini juga dianggap sebagai komunitas tertua di Gresik.

JCI Gresik memiliki agenda rutin, yakni mengadakan nonton bareng (nobar), kopi darat (kopdar), gathering, futsal dan olahraga bersama, hingga berbagai kegiatan sosial lainnya. Bukan hanya para lelaki yang bergabung di komunitas ini, tapi para wanitanya juga ada. Mereka tergabung atas entitas Juvedonna Chapter Gresik. Juvedonna Gresik terbentuk dibawah naungan JCI Gresik. Entitas ini resmi lahir pada 27 Februari 2014.


JCI Gresik bersama Juvedonna Gresik menjadi sebuah komunitas pecinta sepakbola saja, namun dalam perjalannannya juga merupakan komunitas yang peduli sekitar. Kegiatan yang dilakukan bukan hanya semata-mata tentang Juventus. Kegiatan rutin dibulan ramadhan juga dilakukan dengan membagi takjil pada masyarakat sekitar Gresik. Selain itu, mereka juga bersilaturahmi dengan komunitas-komunitas lain di Gresik. Misalnya dengan Ultrasmania yang notabene merupakan komunitas suiporter terbesar di Gresik, kemudian ada Milanisti Gresik, Madridista Gresik, FCBI Gresik (Barcelona), ICI Gresik (Inter Milan), Romanisti Gresik, LFC Gresik (Liverpool), AIS Gresik (Arsenal), CFC Gresik (Chelsea), dll.

Untuk lebih lengkapnya, silakan kunjungi halaman facebook dan twitter JCI dan Juvedonna Gresik.
Grup facebook : Juventus Club Indonesia - Chapter Gresik
Fanpage : Jci Chapter Gresik
Twitter :
@JCI_Gresik
@DonnaJCI_Gresik

Fino alla fine forza Juventus!

Minggu, 05 April 2015

Catatan Harian : Persegres Versus Pusamania Borneo

05 April 2015

Stadion Tri Dharma Petrokimia Gresik sedang riuh dengan suara gemuruh suporter Ultrasmania yang mendukung tim kesayangan mereka bertanding. Sore ini pertandingan dalam Liga Super Indonesia Musim Kompetisi 2015 dimulai dengan mempertemukan tim tuan rumah Persegres Gresik melawan Pusamania Borneo (PBFC). Pertandingan yang cukup keras dengan melihat materi pemain kedua tim yang memiliki karakter hampir mirip. Permainan kedua tim pun berjalan cukup ketat dengan alur cepat. 

Berulang kali pemain tuan rumah mencoba membobol gawang PBFC tapi nampaknya masih cukup dimentahkan Galih Sudaryono. Masih saya ingat betul ketika Riko Simanjutak mencoba melakukan tendangan langsung ke gawang dan ternyata masih sanggup ditepis kiper PBFC. Seketika itu saya mulai paham, tim Persegres ini masih butuh relaksasi yang cukup agar para pemainnya mampu mengendalikan fokus diri dalam bermain. Terkadang melihat atmosfir suporter yang tentu saja menuntut kemenangan dapat membuat pemain makin tergesa-gesa dalam melakukan tendangan langsung.

Kemudian kekaguman saya pada Riko muncul ketika dia mampu mengendalikan diri untuk tidak memaksakan menendang langsung ke gawang lawan. Sejenak ia mundur dan memilih mengoper bola pada Yusuf Efendi, hingga akhirnya Yusuf yang mengeksekusi bola. Goool... Skor 1-0 pun membuat pemain Persegres makin bersemangat menambah pundi-pundi gol.

Setelah keunggulan 1-0 yang kemudian ditambah oleh gol dari Riko, permainan ternyata semakin memanas. Masih ada kartu-kartu kuning lain yang dikeluarkan wasit dari kantongnya. Pemain tim lawan pun makin keras dalam melakukan perlawanan.Dalam permainan yang semakin keras ini, setiap pemain diuji untuk lebih mengendalikan emosinya. Ketika mudah terpancing oleh emosi lawan, maka fokus diri pun akhirnya berubah. Bahkan, hal ini bisa mengakibatkan fisik lebih mudah lelah dan suhu tubuh makin meningkat.

Babak kedua, permainan keras kedua tim semakin menjadi-jadi. Lagi-lagi harus ada kartu kuning yang dikeluarkan wasit, ini berakibat buruk pada masing-masing tim. Pemain tim tuan rumah kembali terpancing dengan permainan keras lawan, hingga beberapa kali diantara mereka harus jatuh bangun. Kondisi babak kedua yang seperti ini sudah saya perhatikan sejak musim-musim lalu, berhubungan dengan fokus pada permainan tim. Pemain terlihat mudah lelah, malas mengejar bola, sedikit-sedikit akhirnya terjatuh atau kalah saat terkena tackling (yang menurut saya banyak yang bersih).

Tak lama kemudian, gol balasan dari PBFC pun terjadi. Skor kemudian berubah menjadi 2-1 hingga peluit terakhir dibunyikan. Banyak hal yang sangat disayangkan dari pertandingan hai ini, tentu saja diluar faktor pengadil lapangan yang menjadi 'raja'. Ya, masalah emosi dan fokus. Padahal dengan didatangkannya pelatih fisik di tim Persegres sudah cukup mampu meningkatkan performa pemain. Sayangnya hal tersebut belum diimbangi dengan adanya perbaikan emosi dan fokus dari para pemain. Semoga menjadi evaluasi tersendiri bagi tim pelatih.

Rabu, 24 September 2014

Bisnis dengan Allah : Membantu Orang Lain


24 September 2014 19:45


Pagi ini seperti pagi biasanya, jam 7 sampai jam 9 aku harus membersihkan kandang kelinciku satu-satunya baru kemudian aku membersihkan rumah. Bapak pun bersiap-siap masuk kantor dan berkeliling kota lagi. Tapi ada sedikit yang berbeda dipagi ini, ada sebuah pesan masuk ke ponselnya yang mengatakan bahwa barang yang diinginkan Bapak sudah siap, apakah jadi diambil atau tidak. Setidaknya orang tersebut menunggu kepastian dari Bapak dalam beberapa hari kedepan.            

Bapak yang sembari bersiap kemudian memencet sebuah nomor untuk menelepon, nomor temannya. Beliau menawarkan barang yang memang sekiranya sudah ikhlas dilepas. Semua dikatakan apa adanya, kondisi barang, harga, hingga alasan mengapa menawarkan barang tersebut tak luput disebutkan. Hingga kemudian beliau memanggilku dan menjelaskan segala macam proses pelepasan barang tersebut. Bapak selalu berbagi apa yang memang dapat membuatku belajar banyak mengenai kehidupan, kemudian percakapan serius pun dimulai.            

Beberapa kali keluarga kami sempat dicap sebagai keluarga yang sering berganti kendaraan. Ya, hampir setiap tahun. Sekian lama proses tersebut, Bapak selalu menjelaskan padaku bahwa beliau memang lebih memilih investasi dengan kendaraan daripada properti atau yang lain. Kemudian Bapak bertanya padaku apakah aku tahu alasan yang sebernarnya menggunakan jalur investasi ini, padahal sudah jelas bahwa harga kendaraan selalu turun setelah dipakai. Pasti ada kerugian harga dibaliknya.         

“Kamu tahu kenapa Bapak lebih memilih investasi dengan ini?”           

“Enggak. Setahuku sekali-sekali kan Bapak bisa invest rumah atau tanah. Tiap tahun kan harganya naik, ada untungnya dari situ.”            

“Iya, Ibumu dan orang-orang juga sering bilang gitu.”            

Aku yang berbicara sambil minum obat flu pun berhenti sejenak. Pandangan kami sama-sama serius di depan meja makan. Kemudian Bapak mulai menjelaskan lagi, “Inves tanah dan rumah itu memang menguntungkan, tiap tahun harganya naik banyak. Banyak orang juga kan yang nyari dan lama-lama dapatnya juga makin sedikit.”            

Aku mengangguk pelan.

“Aku milih jalan ini soalnya aku kasihan sama orang lain. Mereka yang butuh rumah dan butuh tanah. Makin tahun makin mahal, terus makin sempit kan dapatnya? Nanti kalau mereka nggak punya uang gimana? Kamu tega ngambil jatahnya orang lain?”            

Tubuh dan otakku rasanya lemas mendengar penjelasan itu. Aku cuma bisa diam melihat beliau dengan serius menekankan kalimat-kalimat terakhir itu.            

“Aku nganggep ini jalanku bantu orang lain. Anggep aja aku ini bisnis sama Allah, dengan bantu orang lain. Aku nggak butuh jadi orang kaya raya. Punya banyak rumah dimana-mana atau punya tanah terus dijual lagi tahun depannya. Bagiku segini udah cukup. Sama kayak aku nabung di bank, dapat bunga juga termasuk riba’. Itu makanya langsung aja ngambil buat kebutuhan sendiri atau bantuin yang lain yang emang lebih butuh.”            

Kali ini pertahananku runtuh. Mataku sudah berkaca-kaca tak sanggup menatap imam keluarga kecilku ini. Aku berpura-pura mengambil air minum sambil mendengarkan penjelasan beliau yang sukses meluluhkan hatiku. Lalu bapak menanyaiku lagi, “Sekarang kamu sudah paham kenapa aku gini?”           

 Aku cuma mengangguk pelan tanda setuju. Kemudian beliau pergi ke kamar untuk bersiap-siap ke kantor. Sampai aku membukakan pintu pagar dan menutupnya kembali setelah beliau pergi, air mataku akhirnya turun juga. Sungguhlah beruntung aku ini dibanding mereka-mereka yang mungkin memiliki segalanya atau malah menganggapku memiliki segalanya. Setidaknya keberuntunganku adalah memiliki seorang ayah yang tak hanya mengajarkanku cara bertahan hidup dengan logika dan kenyataan, tapi dengan bekal agama dan keimanan untuk akhiratku.